Peradaban Teks: Konsep Penafsiran Al-Qur’an Syed Naquib Al-Attas Menghadapi Modernisasi

 


Oleh: Handila

Saat ini peradaban manusia telah ditopang oleh ilmu Pengetahuan yang semakin maju. Hal ini bisa dilihat dari peradaban barat yang semakin menjadi pemimpin peradaban yang ada dunia yang meawarkan konsep Modernisasi. Gerakan yang modernisasi ini menyuarakan semangat akan peradaban modern yang di definisikan oleh barat. Modern merupakan suatu kata yang menggambarkan kondisi yang maju dengan Pengetahuan yang di dalamnya tidak ada nilai-nilai dari agama, karena modern memandang bahwa agama tidak sejalan dengan tujuan dan prinsip modern.

Modernisasi menghasilkan kontradiksi dan konflik baru serta ironi kemanusiaan. Semua ini dapat dilihat dari krisis kemanusiaan, ekonomi dan pangan. Akan tetapi walaupun demikian ia tetap berkembang ke berbagai penjuru dunia termasuk ke negara-negara Islam. Maka hasilnya ia, menyebabkan peradaban islam menjadi tidak seimbang, sehingga kebanyakan Islam hanya menjadi objek dari Gerakan modernisasi.

Melihat hal ini, Al-Attas mengatakan bahwa modernisasi adalah bentuk dari pada westernisasi, atau penanaman ide dan cara pandang barat terhadap sesuatu kepada seluruh masyarakat yang ada di dunia. Termasuk penanaman budaya, ekonomi, pendidikan, filsafat dan nilai-nilai hidup.

Al-Attas berpandangan bahwa perubahan zaman yang semakin cepat, telah menyebabkan masalah baru di dalam Islam, seperti  sains Islam yang semakin tercampuri oleh kebudayaan barat, sehingga mengikis moral dan agama. Oleh karena itu, sains bukanlah yang mengikuti agama melainkan agama yang mengikuti sains. Hal ini sebagaimana asumsinya yaitu segala sesuatu itu berubah, kecuali perubahan itu sendiri.

Menurut Al-Attas, semua problem umat islam di atas adalah lemahnya umat islam dalam menata system kehidupan yang berbasis islami. Sehingga upaya yang menyelesaikannya bida dengan cara menyatukan pemahaman diantara pemuda muslim akan ide-ide dan konsep fundamental yang berkaitan dengan islam dan peradaban.

Dalam mengatasi permasalahan yang ada di zaman ini, Syed Naquib Al-Attas telah mananamkan berbagai didisiplin ilmu, salah satu di dalamnya adalah menafsirkan ayat al-Qur’an, karena Al-Qur’an adalah sumber utama dan paling kongkrit di dalam Islam. Ketika memahami ayat al-Qur’an Al-Attas  berusaha memahami dari segi makna dan intuisi (melalui proses iluminatif). Untuk mencapai kepada kesimpulan penafsiran al-Qur’an yang sempurna, Al-Attas, menerapkan berbagai disiplin ilmu, yaitu: filsafat, sufistik llinguistik dan metafisika. Keempat disiplin ilmu itulah yang kemudian disebut dengan tafsir metalinguistic.

Keempat ilmu tadi memiliki kedudukan yang berbeda-beda dalam pandangan Al-Attas. Menurutnya keilmuan yang paling dalam adalah sufistik, karena ia adalah intelektual islam paling dalam dan inti dalam menghubungkan manusia dengan Tuhan. Diluarnya adalah metafisika, Al-Attas berpandangan bahwa seluruh nilai etika manusia telah direfleksikan oleh seperangkat pamahaman metafisika, keilmuan ini bisa didapatkan dengan mengkaji filsafat, pendidikan dan ilmu sosiologi. Setelahnya ada filsafat yang merupakan manifestasi metafisika berupa aturan umun dan khusus dalam kehidupan seperti common sense, etiket, logika dan akal sehat. Sedangkan yang paling luar adalah linguistic, dalam hal ini Al-Attas mengatakan bahwa ilmu linguistic pertama adalah ilmu tafsir karena ia bersifat bahasa.

Komponen Konsep Penafsiran Metalinguistik

Komponen tafsir metalinguistic: pertama, landasan sufistik yang dimiliki oleh Al-Attas bersumber pada aliran tasawwuf falsasi atau yang sering dikenal dengan sufi intelektual. Ia beranggapan bahwa tasawwuf adalah pengamalan syariat ditingkatan ihsan. Pada aspek ini, ia memahami tasawwuf melalui eksistensi sesuatu.

Menurut al-Attas  penafsiran al-Qur’an adalah manifestasi dari ayat Allah dalam bentuk teks dan bahasa. Pebacaan ayat al-Qu’an harus dilakukan dengan iluminatif agar memperoleh cahaya ma’rifatullah. Dalam hal ini, Al-Attas mengadopsi konsep al-Ghazali yaitu takhalli, tahalli dan tajalli. Begitu pula perwujudan manusia menurut al-Attas memiliki enam tingkatan yaitu: haqiqi, hissi, khayali, ‘aqli, dan syibbi. Menurutnya persepsi manusia memiliki pemahaman yang berbeda-beda. Sepertihalnya dalam memahami dan mentadabburi ayat-ayat al-Qur’an, sampainya ilmu dan pemahaman kedalam jiwa pembacanya, tergantung pada kesucian jiwa, kualitas spiritual, intelektual dan akhlak yang dimilikinya.

Kedua, metafisika, Al-Attas mendudukkan metafisika sebagai induk (Ru’yatul Islām lil wujūd) worldview Islam. Tanpa worldview Islam manusia akan sulit untuk memahami hakikat Islam yang sebenarnya. Dalam hal ini Al-Attas menjelaskan secara mendalam pada bukunya Prolegomena to the Metaphysics of Islam: an Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview bahwa membangun kerangka fikir metafisika adalah membangun peradaban, karena menurutnya peradaban akan lahir darinya.

Pemahaman al-Attas terkait metafisika berpegang teguh pada Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW. semua ini didasarkan pada kaidah tafsir dan takwil tradisional, menurutnya tafsir mesti berorientasi pada nilai-nilai objektifitas bukan berpegang pada nilai-nilai subjektifitas mufassir.

Ketiga, filsafat. Al-Attas menggunakan bangunan filsafat dalam menafsirkan al-Qur’an untuk mendapakan hakikat yang sesungguhnya -yang terkandung- di dalam Al-Qur’an menurut kehendak al-Qur’an itu sendiri. Karakteristik atau corak filsafat Al-Attas terpengaruhi oleh tokoh filsuf Islam seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali dan yang lainnya. Namun, walaupun demikian ia memiliki corak sendiri seperti penegasannya pada ontology, epistemologi dan aksiologi sebagai upaya mengembalikan manusia kepada asalnya -fitrahnya-. Itulah yang menjadi rumusan dasar penasrian al-Qur’an bagi al-Attas.

Keempat, linguistic adalah sesuatu terpenting bagi al-Attas dalam memahami guna menafsirkan al-Qur’an. Al-Qur’an diturunkan mengguunakan bahasa arab. Namun demikian, ia memiliki perbedaan dengan bahasa arab karena Al-Qur’an adalah kitab suci yang didalamnya terkandung nilai kebenaran yang sempurna.

Bagi al-Attas terminology bagasa arab dibutuhkan dalam memahami terminology yang didalam al-Qur’an. Dalam hal ini Al-Attas tidak mengusulkan terminology bahasa al-Qur’an kepada makna bahasa arab kontemporer melainkan ia kaitkan dengan pembacaan semantic untuk mendapatkan hakikat terminology tertentu.  Dalam memahami baha al-Qur’an al-Attas berkata

“Jika berbicara tentang metodologi dan penerapan simbol-simbol linguistik secara benar, pertimbangan pertama kita adalah untuk memahami sifat ilmiah bahasa Arab, yang merupakan bahasa Islam serta alat untuk mengetengahkan pandangan Islam tentang realiti dan kebenaran. Yang saya maksudkan dengan kata “ilmiah” disini ialah aspek definitif yang menjadi ciri khas ilmu, sebab ilmu adalah definisi tentang realiti atau hakikat dalam pengertian had maupun rasm.”

Dalam hal penafsiran al-Qur’an al-Attas menggunakan empat hal: pertama intuisi, kedua, metafisika, keempat, filsafat, dan keempat bahasa/linguistic. Hal ini bisa disebut juga sebagai proyek peradaban islam sehingga Hasil yang kemudian diinginkan adalah untuk mencapai peradaban Islam yang hakiki.  


Detail artikel yang diringkas: D.I. Ansusa Putra dan Zikwan Zikwan, Peradaban Teks: Konesp Penafsiran Al-Qur’an Syed Naquib Al-Attas Menghadapi Modernisasi, link Download

Sumber Foto: tribunnewswiki.com

Tag: #islam #quran #agama #pemikiran #alattas


Editor: Muhammad Dini Syauqi Al Madani

Penulis: Handila

Comments