Skip to main content

Posts

Menggali Etika Insaniyyah dalam Islam sebagai Solusi Krisis Dehumanisasi dan Keadilan Global

Recent posts

Tawaran Indonesia dalam Merawat Pluralisme di Era Modern

  Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani Di Barat tumbuh sebuah pemahaman kaku tentang sekularisasi yang mengasumsikan bahwa modernisasi akan menyingkirkan peran agama dari ranah publik. Agama diprediksi hanya akan menyusut menjadi urusan pribadi, dianggap irasional, dan secara perlahan ditinggalkan seiring dengan menguatnya diferensiasi-fungsional serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, kerangka teori ini dihadapkan pada realitas sosiologis di dunia Islam, Ernest Gellner menemukan sebuah anomaly besar. Islam terbukti menjadi pengecualian utama yang secara nyata menentang tesis sekularisasi tersebut, karena di era modern ini, vitalitas sosial dan keagamaan umat Islam justru tampil semakin kuat. Konsep sekularisasi ini bagi para cendekiawan Muslim dianggap memiliki muatan makna yang sangat berbeda dari lintasan sejarah masyarakat Barat. Alih-alih bermakna penyingkiran agama, sekularisasi dalam konteks keislaman difahami sebagai upaya meletakkan secara tepat mana dimensi ...

Menelisik Akar Pluralisme Modern di Indonesia

  Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani Indonesia adalah salah satu masyarakat paling majemuk di dunia, yang terbentang sebagai negara kepulauan terbesar dengan ribuan pulau serta ratusan kelompok etnis dan bahasa. Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, namun secara ideologis dan politis bukanlah sebuah Negara Islam. Negara ini didasarkan pada ideologi nasional resmi yang disebut dengan Pancasila, yang lahir sebagai modus vivendi atau jalan tengah antara nasionalisme sekuler dan gagasan negara Islam. Sila-sila dalam Pancasila pada dasarnya telah mengalami proses Islamisasi, seperti Ketuhanan Yang Maha Esa yang mencerminkan tauhid, serta sila keempat tentang demokrasi yang dijiwai oleh kebijaksanaan dan musyawarah, yang secara konseptual mengambil insiprasi dari ungkapan Nabi Muhammad: Ra’s al-hikmah al-mashurah yang artinya pangkal kebijaksanaan adalah musyawarah. Proses masuknya Islam ke Nusantara juga memberikan fondasi yang kuat bagi pluralism, kar...

Reinterpretasi Ayat Gender Amina Wadud dalam Bingkai Hermeneutika Dialogis Hans-Georg Gadamer

  Wacana penafsiran Al-Qur’an terkait isu gender terus mengalami perkembangan yang dinamis, bergeser dari kecenderungan mufasir klasik yang tekstual-normatif menuju pendekatan feminis yang kontekstual-sosiologis. Tafsir klasik kerap melahirkan pemahaman yang bias gender, menempatkan laki-laki lebih unggul secara normative dengan mengabaikan konteks sosiologisnya. Asghar Ali Engineer dan Riffat Hasan mengkritik beberapa metode mufasir seperti At-Thabari, Az-Zamakhsyari, dan Ar-Razi karena hanya menggunakan kacamata teologis dan mengabaikan aspek linguistik serta sosio-teologis. Amina Wadud merespon stagnasi tersebut dengan mencoba mempelopori reinterpretasi ayat-ayat gender seperti penciptaan, kepemimpinan, dan poligami dengan menggunakan metode hermeneutika. Pisau analisis yang paling relevan untuk menelaah model penafsiran Amina Wadud adalah hermeneutika dialogis gagasan Hans-Georg Gadamer. Gadamer dalam karyanya Truth and Method memperkenalkan teori affective historis atau kesa...

Menggugat Narasi Anti-Politik Islam dan Sesat Pikir Tata Negara Kelompok Sekuler di Indonesia

  Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani Perdebatan mengenai Islam Politik dan relevansi konsep Negara Islam terus menjadi isu kritis di dunia yang melibatkan tidak hanya umat Islam, tetapi juga non-Muslim. Di satu sisi terdapat kelompok modernis atau sekularis yang meyakini bahwa penerapan doktrin Islam harus bergantung pada kondisi dunia Muslim, khususnya dalam aspek muamalah, dan berpandangan bahwa praktik demokrasi tidak bertentangan dengan Islam. Di sisi lain, para cendekiawan tradisionalis menolak klaim tersebut dengan keyakinan bahwa konsep doktrin Islam telah final sejak era Nabi Muhammad saw. Mereka berpandangan bahwa seluruh aktivitas manusia telah dijelaskan secara komprehensif dan diatur dalam al-Qur’an, Sunnah, dan kesepakatan Khulafaur Rasyidin. Wacana ini terus bergulir hingga hari ini dengan berbagai kelompok yang mengadvokasi ide-ide mereka melalui metode yang berbeda, mulai dari perjuangan militer, partisipasi dalam pemilu, hingga perjuangan intelektual dan politik ...

Membongkar Nalar Inklusivisme Agama Nurcholis Madjid

  Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani Wacana pemikiran keislaman di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pengaruh gagasan Nurcholis Madjid atau biasa dikenal dengan Cak Nur, yang oleh para pengikutnya sering dianggap membawa napas pembaruan yang mencerahkan. Salah satu produk intelektualnya adalah gagasan mengenai Teologi Inklusif. Daya tarik teologi ini bahkan membuahkan kekaguman mendalam di kalangan intelektual, sebagaimana diungkapkan oleh Goenawan Mohamad dalam pengantar buku Cak Nur: “Setiap kali saya mendengarkan Nurcholis Madjid, setiap kali saya merasa ada yang tersematkan dalam iman saya: Tuhan yang Esa itu adalah Tuhan yang inklusif. Ke dalam ke-Maha Pemurah-an itu saya ditampik.” Pernyataan ini merepresentasikan bagaimana inklusivisme diterima sebagai oase teologis, meski pada saat yang sama memantik persoalan konseptual yang serius terkait identitas dan esensi agama. Gagasan teologi inklusif ini lahir sebagai antitesis terhadap paham eklusivisme yang diklaim sebagai...

Anatomi Jiwa dan Kosmologi Raga dalam Manifesto Kesehatan Ibnu Sina

  Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani Urgensi terhadap pemeliharaan kesehatan mental semakin meningkat seiring dengan tingginya tekanan sosial, proses urbanisasi, dan menurunnya kohesi di masyarakat. Terdapat peningkatan signifikan pada kasus gangguan mental dan tingkat bunuh diri yang mengkhawatirkan. Fenomena ini menuntut pendekatan yang lebih holistik dan komprehensif dalam menangani krisis psikologis. Ibnu Sina menawarkan pendekatan biopsikososialnya yang memiliki kesatuan yang terintegrasi dengan kondisi fisik, kognitif, spiritual, dan lingkungan sosial manusia. Perjalanan intelektual Ibnu Sina menjadikannya sebagai pionir dalam ilmu kedokteran dan psikologi modern. Ia berhasil mengawinkan tradisi keilmuan Yunani dengan nilai-nilai epistemologi Islam. Bukunya yang berjudul al-Qānūn fī at-Țhibb dan Daf’ul Madhar Al-Kulliyah ‘Anil Abdan al-Insaniyah menjadi rujukan yang mewariskan konsep pemeliharaan kesehatan secara paripurna. Ibnu Sina memosisikan jiwa manusia sebagai enti...