Skip to main content

Posts

Rahasia Keseimbangan Jiwa dan Pendidikan Moral Menurut Imam Al-Ghazali

Recent posts

Evolusi Perjuangan Ikhwanul Muslimin dalam Menegakkan Syariat Negara

  Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani Ikhwanul Muslimin (IM) yang didirikan di Mesir tahun 1928 oleh Hasan al-Banna muncul sebagai sebuah respons langsung terhadap keruntuhan Kekhalifahan Utsmaniyah pada tahun 1924. Di tengah menyebarnya sekularisme setelah masa penjajahan, IM hadir dengan membawa tujuan utama untuk membentuk kembali akidah umat Islam dan menjadikan Islam sebagai fondasi utama dalam mendirikan sebuah negara. Orientasi politik organisasi ini sangat dipengaruhi oleh dimanika pemikiran para tokoh pimpinannya dari masa ke masa, terutama Hasan al-Banna, Sayyid Qutb, Hassan al-Hudaybi, dan Umar al-Tilmisani. Hassan al-Banna memandang bahwa Islam adalah sebuah sistem komprehensif yang mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk negara, moral, hukum, dan politik. Beliau secara tegas menolak pemisahan agama dari urusan politik (sekularisme), yang ia anggap sebagai virus yang disebarkan oleh pihak Barat, sehingga sebuah pemerintahan bara layak disebut sebagai pemerintahan ...

Menggugat Kapitalisme dan Komunisme Lewat Gagasan Sosialisme Islam Mustafa as-Shiba'i

  Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani Agama Islam dan sosialisme sejatinya memiliki titik temu yang kuat dalam upaya menciptakan Masyarakat yang setara, menjamin kesejahteraan sosial, dan mengentaskan kemiskinan. Meskipun ada pandangan yang menolak gagasan ini karena menganggap sosialisme murni ideologi Barat, Islam sebenarnya telah lama memiliki fondasi yang kokoh untuk membangun struktur yang adil. Hal ini dapat dilihat pada praktik ibadah seperti zakat, infak, dan sedekah yang merupakan pilar penting yang sejak awal dirancang untuk memastikan kekayaan didistribusikan secara merata ke semua lapisan Masyarakat, dan tidak hanya berputar serta menumpuk di kalangan orang kaya saja. Kita semuanya sadar akan cengkeraman kapitalisme saat ini, sehingga konsep keadilan dalam ekonomi menjadi kebutuhan yang mendesak untuk dijawab, dan salah satu tokoh yang berhasil merumuskan solusinya Adalah Mustafa as-Shiba’i, seorang politisi asal Suriah. Beliau menulis sebuah buku berjudul Ishtirākiyat...

Aktualisasi Filsafat Ilmu untuk Pengembangan Sains Islam Melalui Studi Epistemologis

   Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani Akar Historis Kemunduran Sains Islam Sains secara umum diklasifikasikan ke dalam dua kelompok besar, yaitu ilmu alam ( natural science ) dan ilmu sosial ( social science ). Gerakan Islamisasi ilmu pengetahuan tampak lebih menonjol pada wilayah ilmu-ilmu sosial, meskipun belakangan ini institusi pendidikan Islam mulai gencar mengintegrasikan Islam dengan ilmu eksakta, seperti melahirkan diskursus matematika Islam dan fisika Islam. Integrasi ini sangatlah krusial karena dalam paradigma Islam, menuntut ilmu adalah wadah pemenuhan rasionalitas, dan mengemban misi ganda berupa pencarian rida Allah SWT sekaligus memberikan kemaslahatan bagi umat manusia ( rahmatan lil 'alamin ). Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. Ali 'Imran: 191: الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ...

Resepsi dan Demarkasi: Respons Intelektual Muslim Indonesia terhadap Pemikiran Keislaman William Montgomery Watt

  Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani Peta Pemikiran Orientalisme di Indonesia Diskursus mengenai orientalisme dalam kancah pemikiran Islam kontemporer di Indonesia selalu menempati posisi yang dinamis sekaligus dialektis. Kehadiran karya-karya sarjana Barat dalam mengkaji Islam tidak lagi dipandang sebagai entitas tunggal yang monolitik, melainkan dipetakan secara kritis ke dalam dua kategori besar, yaitu apresiatif ( appreciative ) dan kritisisme ( criticism ). Apresiasi akademis umumnya diberikan oleh para sarjana Muslim terhadap karya orientalis yang menunjukkan kecenderungan objektif, jujur, dan menggunakan pendekatan ilmiah yang terbuka dalam membedah studi keislaman. Sebaliknya, artikulasi kritik dilesakkan secara tajam apabila produk pemikiran Barat tersebut mulai mengonfrontasi, mereduksi, atau menyinggung wilayah akidah, teologi, serta ideologi yang disakralkan oleh umat Islam. Dalam lanskap sosiologis Indonesia yang memiliki latar belakang keagamaan yang heterogen, kaji...

Ikhtiar Melawan Kejumudan Tekstualis Menuju Paradigma Pendidikan Islam yang Terbuka Lewat Filsafat Falsifikasi Karl Popper

  Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani Karl Raimund Popper lahir pada tanggal 28 Juli 1902 di kota Wina, Austria. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga intelektual yang berkebudayaan tinggi, ayahnya, Dr. Simon S. Carl Popper, adalah seorang sarjana hukum dan pengacara yang mencintai buku serta filsafat, sedangkan ibunya merupakan seorang pencinta musik yang pandai bermain piano. Ketertarikan mendalam terhadap dunia akademis membawa Popper menyelesaikan studi doktoralnya pada tahun 1928 dengan disertasi berjudul Zur Methodenfrage der Denkpsychologie (Masalah Metode dalam Psikologi Pemikiran) hingga ia berhasil meraih gelar doktor di bidang filsafat. Selang satu tahun kemudian, berbekal gelar diploma yang dimilikinya, ia mengajar matematika dan IPA di sekolah menengah alam. Sebagai putra daerah, Popper dikenal sebagai salah satu kritikus paling tajam terhadap pemikiran dominan yang berkembang di Lingkar Wina ( Vienna Circle ). Meskipun ia mengakui dirinya sebagai pengritik luar da...

Menakar Peluang Keilmiahan Ilmu-ilmu Islam Melalui Prinsip Falsifikasi Karl Popper

  Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani Perkembangan ilmu pengetahuan, atau yang secara universal dikenal sebagai science , hakikatnya didorong oleh dinamika kreativitas akal dan kegelisahan intelektual manusia yang bersifat berkelanjutan tanpa batas waktu. Manifestasi nyata dari perkembangan ini adalah lahirnya beragam aliran pemikiran yang menawarkan konsep serta metodologi di atas fondasi paradigmanya masing-masing. Di satu sisi, keberagaman ini mencerminkan kedalaman upaya manusia dalam mengejar kebenaran, namun di sisi lain, benturan paradigma tidak jarang memicu krisis kerangka intelektual, bahkan hingga melibatkan konflik fisik yang mengorbankan banyak jiwa, sebagaimana terekam dalam sejarah ketegangan antara otoritas gereja dan kaum saintis menjelang era pencerahan. Ikhtiar manusia yang tak pernah usai dalam menyingkap tabir realitas ini sejatinya selaras dengan isyarat Tuhan dalam Al-Qur'an Surah Al-Isra ayat 85: وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا "Dan tid...