Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani
Feminisme
merupakan sebuah keyakinan, gerakan dan usaha untuk memperjuangkan kesetaraan
posisi perempuan dan laki-laki dalam masyarakat yang bersifat partriakris. Tong
menyatakan bahwasannya feminisme bukan sebuah gerakan yang mewakili seluruh
perempuan, melainkan konsep yang luas dan majemuk guna memayungi berbagai
pendekatan, pandangan, dan kerangka berpikir yang digunakan untuk menjelaskan penindasan
terhadap perempuan dan jalan keluar yang digunakan untuk meruntuhkan penindasan
tersebut. Sejarah feminisme di Barat merupakan perjalanan panjang yang
berlangsung selama beberapa abad, berkembang melalui berbagai tahapan yang
dikenal sebagai "gelombang" feminisme. Berikut adalah masa-masa pergerakan
feminisme terbagi menjadi beberapa fase:
Pertama, feminisme
awal adalah usaha menghadapi patriarki pada tahun 1550-1700 di Inggris, hal ini
dilakukan disebabkan oleh pandangan terhadap perempuan yang dianggap lebih
lemah, lebih emosionalm dan tidak rasional. Faktor munculnya pemikiran ini
didasari oleh pengaruh pemikiran akan perempuan yang turut berperan bagi
perkembangan masyarakat.
Hodgson merumuskan
tiga cara pergerakan feminisme awal yaitu merevisi subordinasi perempuan dalam
gereja, menentang berbagai buku panduan bersikap yang cenderung mengekang
perempuan pada zaman tersebut, membangun solidaritas antar penulis perempuan.
Hal ini dilakukan dengan memberikan pendidikan kepada perempuan agar
menerbitkan inspirasi akan pentingnya pendidikan bagi perempuan.
Kedua,
feminisme gelombang pertama, pada fase ini terjadi ketika
perempuan telah meraih hak pilih di awal abad keduapuluh. Pada fase ini upaya
pengembangan sisi rasional pada perempuan digalakkan dengan menyelenggarakan
pendidikan bagi perempuan yang setara dengan laki-laki. Di samping itu gerakan
ini ditujukan pada perempuan lajang dari kelas menengah saja, terkhusus yang
memiliki intelektualias yang tinggi. Adapun fokus isunya, hanya isu-isu
tertentu saja yaitu hak-hak legal dan politik perempuan, terutama hak untuk
memilih (suffrage). Sayangnya, di dalam memperjuangkan hal ini, mereka masih
mengandalkan bantuan kaum laki-laki di dalam mencapai tujuan mereka.
Adapun beberapa
tokoh penting dalam gelombang pertama ini termasuk Susan B. Anthony, Elizabeth
Cady Stanton, dan Emmeline Pankhurst. Mereka memperjuangkan hak-hak perempuan
di berbagai aspek, terutama hak untuk berpartisipasi dalam pemilu. Salah satu
pencapaian terbesar dari gelombang pertama ini adalah disahkannya hak pilih
bagi perempuan. Di Amerika Serikat, ini terwujud dengan Amandemen ke-19 pada
tahun 1920. Di Inggris, perjuangan para suffragette berujung pada hak pilih perempuan
sebagian pada 1918 dan hak penuh pada 1928.
Ketiga,
gelombang kedua, yang dimulai pada tahun 1960-an, saat
gerakan ini beralih dari isu-isu legal dan politik ke masalah sosial, budaya,
dan ekonomi. Gelombang ini muncul sebagai reaksi terhadap ketidakpuasan perempuan
atas berbagai diskriminasi yang mereka alami meskipun emansipasi secara hukum
dan politisi telah dicapai oleh feminisme gelombang pertama. Oleh karenanya
pada fase ini lebih difokuskan pada isu yang berkaitan langsung dengan mereka,
yaitu, pengasuhan anak, repodruksi, kekerasan seksual, seksualitas perempuan, dan
masalah domestisitas. Feminisme gelombang kedua juga menantang norma-norma
sosial dan budaya yang dianggap menindas perempuan
Adapun tokoh-tokoh
penting dari gelombang kedua ini termasuk Betty Friedan, yang bukunya The
Feminine Mystique (1963) membantu memicu gerakan feminis baru; Gloria Steinem,
seorang jurnalis dan aktivis terkemuka; serta Simone de Beauvoir dengan
karyanya The Second Sex (1949), yang menjadi teks penting dalam teori
feminisme. Pada masa ini meraih pencapaian penting termasuk peningkatan akses
ke pendidikan dan pekerjaan bagi perempuan, legalisasi aborsi di beberapa
negara, dan peningkatan kesadaran tentang kekerasan dalam rumah tangga.
Keempat,
gelombang ketiga, yang muncul pada awal 1990-an hingga
2000-an sebagai reaksi terhadap apa yang dianggap sebagai kegagalan atau
keterbatasan gelombang kedua. Gelombang ini lebih inklusif dan beragam,
menekankan pengalaman individu dan interseksionalitas—yakni, bagaimana
identitas gender berinteraksi dengan ras, kelas, orientasi seksual, dan faktor
lainnya.
Gelombang
ketiga berfokus pada keragaman pengalaman perempuan dan menolak definisi
tunggal tentang "perempuan" atau "perjuangan perempuan".
Gerakan ini juga lebih terbuka terhadap isu-isu terkait seksualitas, identitas
gender, dan kebebasan individu.
Tokoh-tokoh
dari gelombang ini termasuk Rebecca Walker, yang dianggap sebagai salah satu
pencetus gelombang ketiga, serta aktivis dan penulis seperti bell hooks dan
Judith Butler, yang menyoroti pentingnya interseksionalitas dan teori queer
dalam memahami feminisme. Pencapaian dari gelombang ketiga yaitu membantu
mendorong penerimaan terhadap berbagai identitas gender dan seksualitas, serta
memperluas wacana feminisme untuk lebih inklusif terhadap perempuan dari
berbagai latar belakang etnis dan sosial.
Kelima,
gelombang keempat, yang terjadi dari 2010-an hingga sekarang,
fase feminisme ini sering dikaitkan dengan munculnya media sosial sebagai alat
utama dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan memobilisasi gerakan. Yang
mana fokus dari gelombang ini adalah pada kekerasan seksual, pelecehan online,
kesetaraan gender di tempat kerja, dan body positivity. Gerakan ini sering
berpusat pada kampanye online seperti #MeToo, yang mengekspos kasus-kasus
pelecehan seksual dan mempromosikan dukungan terhadap para korban.
Tokoh yang
muncul dari gerakan ini tidak memiliki tokoh tunggal yang dominan, tetapi
banyak aktivis, seperti Tarana Burke (pendiri gerakan #MeToo) dan Emma Watson
(melalui kampanye He For She) yang telah memainkan peran penting. Pencapaian
pada gelombang keempat telah berhasil meningkatkan kesadaran global tentang
pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan, mendorong perubahan kebijakan di
berbagai perusahaan dan institusi, serta menciptakan ruang lebih luas untuk
diskusi tentang hak-hak perempuan di era digital.
Dari sini
dapat disimpulkan bahwasannya sejarah feminisme di Barat adalah cerita tentang
perjuangan berkelanjutan untuk kesetaraan gender, dimulai dari hak-hak dasar
seperti hak pilih hingga isu-isu kompleks seperti kekerasan seksual dan
identitas gender. Meskipun setiap gelombang memiliki fokus dan tantangannya
sendiri, semuanya berkontribusi pada kemajuan hak-hak perempuan dan penghapusan
ketidakadilan gender.
Sumber Foto: eatmy.news
Tag: #feminisme #politik #perempuan #sandyakala #gerakan
Editor: Muhammad Dini Syauqi Al Madani
Penulis: Muhammad Dini Syauqi Al Madani

Comments
Post a Comment