Mendobrak Paradigma Kaku dalam Tafsir: Revolusi Fazlur Rahman dengan Konsep Double Movement

 

Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani

Islam adalah agama yang membawa pesan keadilan dan kemanusiaan. Al-Qur'an dan ajaran Nabi Muhammad SAW mengajarkan nilai-nilai tersebut yang menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Sejak zaman Nabi, para sahabat mempelajari Al-Qur'an untuk diaplikasikan dalam kehidupan. Tradisi ini berlanjut hingga para ulama dan cendekiawan Muslim menciptakan berbagai metode untuk menafsirkan Al-Qur'an, seperti metode tahlili (analitik), ijmali (global), muqaran (perbandingan), dan maudhu'i (tematik).

Di era modern, metodologi penafsiran terus berkembang. Salah satu yang terkenal adalah teori double movement dari Fazlur Rahman, seorang pembaharu dalam tafsir Al-Qur'an. Rahman menilai bahwa penafsiran klasik terkesan kaku dan kurang relevan dengan masalah kontemporer. Karena itu, ia mengusulkan teori double movement untuk memberikan pemahaman yang lebih kontekstual terhadap Al-Qur'an, menyesuaikan dengan zaman sekarang.

Apa itu Teori Double Movement?

Teori double movement adalah metode penafsiran Al-Qur'an yang melibatkan dua langkah utama. Pertama, kita harus memahami konteks historis saat ayat Al-Qur'an diturunkan, melihat permasalahan spesifik yang dihadapi umat saat itu. Dari situ, kita bisa mengambil prinsip-prinsip universal dari ayat-ayat tersebut. Setelah itu, langkah kedua adalah menerapkan prinsip-prinsip tersebut ke konteks masa kini, menyesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya saat ini.

Dengan cara ini, teori double movement membantu kita memahami Al-Qur'an tidak hanya secara tekstual, tetapi juga dalam konteks kehidupan modern. Misalnya, kita bisa melihat bagaimana aturan-aturan dalam Al-Qur'an tentang kepemimpinan bisa diterapkan di masyarakat modern yang plural dan demokratis.

Kenapa Penting untuk Memahami Double Movement?

Metode ini penting karena persoalan yang dihadapi manusia saat ini sangat berbeda dengan zaman Nabi. Dengan memahami konteks ayat dan menghubungkannya dengan situasi saat ini, kita bisa mendapatkan solusi yang lebih relevan dan aplikatif dari Al-Qur'an.

Teori ini juga membuka pintu untuk penafsiran Al-Qur'an yang lebih dinamis dan tidak sekadar normatif. Ini memungkinkan Al-Qur'an selalu relevan, menyesuaikan dengan perkembangan zaman, dan tidak terjebak dalam pemahaman yang kaku.

Fazlur Rahman: Sang Pembaharu Pemikiran Islam

Fazlur Rahman lahir di Hazara, Pakistan, pada 21 September 1919, dan meninggal di Chicago pada 26 Juli 1988. Dia dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam reformasi pemikiran Islam abad ke-20. Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh latar belakang pendidikannya yang kuat dalam bidang tafsir, hadits, hukum, dan filsafat.

Rahman menjadi terkenal karena keberaniannya mengkritisi metode penafsiran klasik yang menurutnya kurang sistematis. Dia percaya bahwa untuk menjadikan Al-Qur'an relevan dengan zaman sekarang, diperlukan pendekatan baru yang lebih kontekstual.

Kritik terhadap Teori Double Movement

Cara Kerja Double Movement Metode yang terdiri dari dua langkah utama. Langkah pertama adalah memahami konteks sosio-historis saat ayat Al-Qur'an diturunkan. Setelah itu, prinsip-prinsip yang diperoleh diterapkan pada situasi modern (gerakan kedua). Namun, Rahman tidak memberikan panduan yang jelas dan sistematis untuk gerakan kedua, sehingga interpretasi bisa menjadi subyektif.

Kelemahan Metode Ini Salah satu kelemahan metode ini adalah kurangnya panduan pada gerakan kedua, sehingga penafsiran menjadi kurang terarah. Selain itu, metode ini sulit diterapkan pada ayat-ayat yang tidak memiliki latar belakang sosio-historis atau pada ayat-ayat yang bersifat metafisik, seperti ayat-ayat tentang kehidupan akhirat.

Kritik terhadap Rahman dari beberapa kritikus disebutkan bahwa metode Rahman cenderung terlalu bebas, sehingga memungkinkan interpretasi yang bisa mengubah hukum-hukum Al-Qur'an yang bersifat pasti (qath’i). Ini berpotensi mengarah pada tafsir yang menyimpang, seperti pandangan aktivis liberal yang menilai ayat-ayat hukum tertentu hanya berlaku sementara.

Oleh karenanya meskipun metode double movement Rahman berupaya menyesuaikan ajaran Al-Qur'an dengan kebutuhan zaman, diperlukan kehati-hatian dalam penerapannya. Penafsiran yang mengabaikan teks dan terlalu mengandalkan konteks modern bisa mengancam keaslian ajaran Islam.

Aplikasi Teori Double Movement

Bagaimana penerapan teori double movement ini dalam kehidupan nyata? Salah satu contohnya adalah dalam penelitian yang mengkaji hukum memilih pemimpin non-Muslim. Menggunakan teori ini, penafsiran Al-Qur'an tentang kepemimpinan tidak lagi dilihat secara tekstual semata, tetapi juga dengan mempertimbangkan konteks sosial saat ini, seperti kebebasan politik dan hukum di negara modern.

Dengan cara ini, teori double movement memungkinkan kita memahami Al-Qur'an sebagai sumber hukum yang fleksibel dan adaptif, bukan sekadar teks yang kaku.

Dari sini kemudian dapat disimpulkan bahwasannya Fazlur Rahman dengan teorinya memberikan sumbangan besar bagi perkembangan tafsir Al-Qur'an di era modern. Teori double movement mengajak kita untuk melihat Al-Qur'an sebagai pedoman yang hidup, relevan, dan bisa memberikan solusi bagi masalah-masalah kontemporer. Namun, kritik terhadapnya juga sangat penting yang menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan antara penafsiran kontekstual dan keabadian pesan wahyu. Dengan memahami dan menerapkan teori ini secara bijaksana, kita dapat terus menjaga relevansi Al-Qur'an di tengah perubahan zaman, namun tetap menjaga integritas dan kesucian ajarannya.


Sumber Foto: tanwir.id

Tag: #islam #quran #fazlurrahman #agama #hermeneutika 

Editor: Muhammad Dini Syauqi Al Madani

Penulis: Muhammad Dini Syauqi Al Madani

Comments