Oleh: Muhammad Diaz Supandi
Pendidikan tinggi pada hakikatnya merupakan arena
pematangan intelektual, ruang dialog antaride dan tempat tumbuhnya kepekaan
moral serta keberanian berpikir kritis. Universitas didirikan bukan semata
sebagai mesin pencetak tenaga kerja, melainkan sebagai institusi peradaban yang
memfasilitasi pengembangan akal budi, pengetahuan, dan karakter manusia
seutuhnya. Di sinilah tempat individu didorong untuk bertanya, mengkaji, dan
menggugat realitas, demi membentuk masa depan yang lebih adil dan manusiawi.
Namun, pada era kontemporer yang ditandai oleh hegemoni neoliberalisme,
orientasi luhur ini perlahan terkikis. Banyak kampus mulai beralih fungsi
menjadi korporasi intelektual yang lebih sibuk menghitung pemasukan dan
peringkat, ketimbang membangun atmosfer akademik yang sehat dan bermakna.
Fenomena
komersialisasi ini tampak jelas dalam narasi yang kini digembar-gemborkan
banyak institusi pendidikan tinggi: "kuliah hari ini, kerja besok."
Janji-janji instan semacam ini mengaburkan makna esensial dari proses
pendidikan itu sendiri. Pendidikan tidak lagi dipandang sebagai proses
kontemplatif dan transformatif, tetapi direduksi menjadi sekadar investasi
ekonomi dengan return dalam bentuk pekerjaan dan penghasilan. Mahasiswa pun,
alih-alih diasah nalar kritis dan kepekaan sosialnya, justru dituntut untuk
menjadi individu yang patuh terhadap logika pasar dan siap ditempatkan dalam
mesin produksi global. Kampus dengan demikian bertransformasi menjadi pabrik
tenaga kerja massal yang mengabaikan pertumbuhan ruhani, etika, dan pemikiran.
Transformasi ini
tidak hanya merugikan mahasiswa, tetapi juga berdampak serius terhadap posisi
dan peran dosen serta tenaga pendidik. Dosen yang sejatinya merupakan lokomotif
intelektual kampus, kini terkungkung dalam beban administratif yang mencekik.
Alih-alih membimbing mahasiswa dengan pengajaran reflektif dan riset yang
visioner, mereka disibukkan oleh pelaporan, akreditasi, dan tuntutan publikasi
kuantitatif yang tak selalu berkontribusi pada kualitas keilmuan. Atmosfer akademik
yang ideal sebagai tempat perenungan dan inovasi pun kian menghilang,
digantikan oleh rutinitas birokratik yang steril dari semangat pencarian
kebenaran. Dalam kondisi demikian, bukan hanya semangat akademik yang mati,
tetapi juga daya hidup intelektual itu sendiri.
Konsekuensi dari
degradasi ini sangat mengkhawatirkan. Universitas yang dahulu menjadi tempat
lahirnya para pemikir besar kini hanya menghasilkan lulusan dengan ijazah tanpa
visi. Nilai-nilai luhur seperti integritas ilmiah, kebebasan akademik, dan
keberanian bersuara kian terpinggirkan oleh kepentingan akreditasi, branding
institusi, dan kerjasama korporasi. Di tengah arus globalisasi yang kian deras
dan era digital yang serba cepat, kampus semestinya hadir sebagai penyeimbang
moral dan laboratorium ide-ide kemanusiaan. Namun realitas menunjukkan
sebaliknya, universitas justru tenggelam dalam arus kapitalisasi dan kehilangan
jati dirinya sebagai penjaga nurani masyarakat.
Maka dari itu,
penting bagi semua pemangku kepentingan—baik negara, dosen, mahasiswa, maupun
masyarakat—untuk bersama-sama merefleksikan kembali peran sejati pendidikan
tinggi. Kampus bukan sekadar terminal kerja, melainkan rumah kebudayaan, tempat
akal sehat dan nilai-nilai kemanusiaan dirawat dan ditumbuhkan. Jika universitas
terus dibiarkan menjadi entitas ekonomi yang semata mengejar profit dan
prestise, maka yang kita pertaruhkan bukan hanya kualitas pendidikan, tetapi
arah masa depan bangsa. Revitalisasi semangat intelektual, etika akademik, dan
keberanian berpikir kritis adalah langkah awal untuk menyelamatkan universitas
dari kehancuran nilai. Kampus harus kembali menjadi cahaya peradaban, bukan
sekadar bayang-bayang pasar tenaga kerja.
1. The Philosophy of Higher Education: A Critical Introduction – Ronald Barnett (2021)
2. Philosophers on the University: Reconsidering Higher Education – Ronald Barnett & Amanda Fulford (ed., 2020)
3. The University Becoming: Perspectives from Philosophy and Social Theory (2021)
4. Imprealisme Intelektual – Syed Hussein Alatas (2007)

Comments
Post a Comment