Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani
Kajian
orientalisme terhadap khazanah Islam, terkhusus metodologi ilmiah yang mereka
agungkan, sering kali diklaim sebagai bentuk kajian yang objektif, kritis, dan
bebas nilai. Alangkah baiknya apabila kita bedah dengan kacamata epistemologi
yang jernih, klaim tersebut ternyata justru kontradiktif dengan realitas produk
pemikiran mereka. Metodologi mereka kerap kali melanggar asas-asas akademis
yang mereka tetapkan sendiri untuk orang lain, seolah posisi mereka berada di
atas metodologi itu sendiri.
Sebagaimana
pembuka khutbah yang diajarkan oleh Rasulullah saw, "Innal-ḥamda lillāhi, naḥmaduhū wa nasta‘īnuhū wa
nastagfiruhū, wa na‘ūżu billāhi min syurūri anfusinā..." (Sesungguhnya
segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya,
serta berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami...). Kesadaran akan
kelemahan manusiawi inilah yang absen dari tradisi orientalisme, sehingga melahirkan
kesombongan metodologis yang menolak kebenaran wahyu. Berikut ini, secara
komprehensif saya akan menguraikan dan membongkar beberapa kecacatan
epistemologis serta cacat metodologis mendasar yang melekat kuat dalam tradisi
kajian para orientalis.
Paparan yang
saya sampaikan ini merupakan sebuah ulasan dan rekonstruksi kritis yang
disarikan dari tulisan berjudul "‘Uyūbul-Manhajil-‘Ilmiyyi
‘indal-Mustasyriqīn" oleh Dr. Maḥmūd bin Aḥmad ad-Dausarī.
Alasan mendasar mengapa saya mengangkat dan mengulas tulisan ini adalah karena
urgensinya yang sangat tinggi dalam dunia akademik Islam kontemporer,
dekonstruksi ini menjadi modal krusial untuk menyingkap sejauh mana
objektivitas yang selama ini diagungkan oleh Barat sebenarnya telah terdistorsi
oleh bias teologis, sentimen rasial, dan kepentingan hegemonik mereka terhadap
Islam.
1. Subjektivitas dan Kecenderungan Mengikuti Hawa Nafsu (Al-Mayl
ila al-Hawa)
Cacat mendasar
pertama dalam kajian orientalisme yang berkaitan dengan studi Sunnah dan Sirah
Nabawiyah adalah ketidakmampuan mereka untuk melepaskan diri dari kepentingan
personal, sentimen agama, dan bias kultural. Padahal secara aksiologis, seorang
peneliti yang tulus harus menanggalkan segala tendensi pribadi demi mencapai
objektivitas ilmiah. Para orientalis justru melakukan reduksi metodologis
dengan memaksakan standar Kristen Barat untuk mengukur Islam. Mereka berasumsi
bahwa kedudukan Nabi Muhammad saw bagi umat Islam sama persis dengan kedudukan
Yesus bagi umat Kristiani. Atas dasar bias teologis ini, mereka melahirkan
istilah peyoratif "Mahomedanism" (Madzhab Muhammadi) dan "Mahomedans"
(Kaum Muhammadi).
Bias ini juga
menggiring mereka pada kesimpulan yang anakronistis dan spekulatif. Sebut saja Grim
seorang orientalis yang mengklaim secara imajiner bahwa Nabi Muhammad saw pada
dasarnya adalah seorang sosialis. Meskipun pandangan ini sempat dikritik oleh
Snouck Hurgronje yang menyatakan, "...wa lākinnahū ẓanna anna hāżā
‘amalun laisat lahū ahammiyyatun kabīrah, wa arāda an yuṭrif an-nāsa bibinā’in
jadīd, fafasila fī waḍ‘is-sīratin-nabawiyyati-llatī ḥāwala fīhā an yaṭba‘a Muḥammadan
biṭābi‘ir-rūḥil-isytirākiyyi...". (Namun ia mengira bahwa ini adalah
pekerjaan yang tidak terlalu penting, dan ingin mencengangkan orang-orang
dengan struktur baru, maka ia gagal dalam menyusun Sirah Nabawiyah karena
mencoba mencoraki Muhammad dengan ruh sosialisme...).
Pandangan Grim
ini runtuh secara ilmiah. Jika mereka konsisten dengan metodologi sejarah,
mungkinkah figur masa lalu (abad ke-7 M) menjadi pengikut ideologi modern yang
baru lahir abad ke-19 melalui Karl Marx? Jika ada kemiripan perilaku sosial
seperti tolong-menolong, hal itu adalah bagian dari keluhuran akhlak Islam,
sebagaimana terekam dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim mengenai prinsip
komunal suku Asy'ari:
"إِنَّ الأَشْعَرِيِّينَ إِذَا
أَرْمَلُوا فِي الْغَزْوِ أَوْ قَلَّ طَعَامُ عِيَالِهِمْ بِالْمَدِينَةِ جَمَعُوا
مَا كَانَ عِنْدَهُمْ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ، ثُمَّ اقْتَسَمُوهُ بَيْنَهُمْ فِي
إِنَاءٍ وَاحِدٍ بِالسَّوِيَّةِ، فَهُمْ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ"
(Sesungguhnya
kaum Asy'ariyyin, jika mereka kekurangan makanan dalam peperangan atau makanan
keluarga mereka di Madinah menipis, mereka mengumpulkan apa yang mereka miliki
dalam satu kain, kemudian membaginya rata... mereka adalah bagian dariku dan
aku bagian dari mereka).
Pemaksaan label
sosialis ini membuktikan bahwa riset orientalisme digerakkan oleh al-hawa
(subjektivitas nafsu), yang secara tegas dilarang dalam Al-Qur'an:
فَلَا
تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَنْ تَعْدِلُوا
"Maka
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari
kebenaran." (QS. An-Nisa': 135)
2. Bias Rasial dan Sentimen Eurosentrisme (At-Tahayyuz
al-'Unshuri)
Selain
dipengaruhi hawa nafsu, narasi orientalisme juga sangat kental dengan rasisme
dan sentimen kultural yang akut. Hal ini terlihat jelas dalam pernyataan
ekstrem orientalis Prancis, Kimon, dalam bukunya Pathologie de l'Islam:
"إنَّ الديانة المحمدية جذام تفشَّى
بين الناس... وما قَبْر محمدٍ إلاَّ عمودٌ كهربائي يبعث الجنون في رؤوس المسلمين..."
“Sesungguhnya
agama Muhammad adalah penyakit kusta yang mewabah di tengah manusia... dan
tidaklah kuburan Muhammad itu melainkan tiang listrik yang mengirimkan kegilaan
ke dalam kepala orang-orang Muslim...”.
Penghinaan
verbal ini menjauhkan tulisan mereka dari batas-batas akademis dan menyingkap
kebencian yang mendalam, sebagaimana firman Allah SWT,
قَدْ بَدَتِ
الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ
"Telah
nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka
adalah lebih besar lagi." (QS. Ali 'Imran: 118)
Gejala bias
rasial ini juga tampak pada generalisasi psikologis yang rapuh dari orientalis
Belanda, Dozy. Ketika menganalisis karakter Rasulullah saw, ia mengklaim bahwa
Nabi Muhammad saw adalah seorang yang melankolis dan penuh khayalan, sementara
ia menghakimi bahwa "kaum Arab adalah bangsa yang kering dari imajinasi
dan sentuhan religius". Secara metodologis, membuat generalisasi
psikologis dan sosiologis mutlak terhadap suatu bangsa adalah hal yang mustahil
secara rasional dan empiris.
Bias ini lahir
dari superioritas rasial Barat (Eurosentrisme). Robert Thouless dalam bukunya Straight
and Crooked Thinking mengonfirmasi cacat logika ini:
"من الأمور التي جعلنا ميَّالين إلى
التفكير الأعوج، تحيُّزاتنا…"
“Di antara hal-hal yang membuat kita
cenderung berpikir bengkok/cacat adalah prasangka-prasangka (bias) kita…”
Hal ini
diperkuat oleh kesaksian Muhammad Asad (mantan teolog Yahudi Austria yang masuk
Islam) yang menyatakan bahwa orang Eropa memandang superioritas ras mereka atas
seluruh manusia sebagai fakta mutlak, sehingga melahirkan simplifikasi dan
pelecehan terhadap peradaban non-Eropa.
3. Selektivitas Teks dan Sumber yang Tidak Otoritatif (Al-Intiqa'iyyah)
Cacat
metodologi ilmiah berikutnya adalah sikap selektif yang tidak jujur (cherry-picking)
dalam memilih teks dan rujukan. Indikator kredibilitas seorang ilmuwan terletak
pada kemampuannya merujuk pada sumber yang otoritatif dan spesifik sesuai
bidangnya (sources kompeten). Namun, para orientalis justru kerap
membangun generalisasi hukum tentang hukum Islam dan hadis berdasarkan
kitab-kitab sastra, fiksi, atau sejarah yang memuat riwayat-riwayat lemah
(dhaif) dan aneh, seperti kitab Al-Aghani karya Al-Asfahani, Alif
Lailah wa Lailah (Kisah 1001 Malam), atau Al-Imta' wa al-Mu'anasah.
Mereka sengaja mengabaikan metodologi kritik sanad (Naqd ar-Rijal) yang
telah dirumuskan oleh para ulama hadis.
Akibat dari
selektivitas yang cacat ini, muncul kesimpulan yang saling kontradiktif di
antara sesama orientalis mengenai wafatnya Rasulullah saw. Henri Lammens seorang
orientalis Jesuit yang fanatic berfantasi dengan mengklaim bahwa Rasulullah saw
memiliki syahwat yang tak terkendali hingga fisiknya lemah dan terserang
stroke. Clement Huart juga mengklaim beliau wafat karena gejala
pneumonia akut, sementara paderi Prideaux menyebut beliau wafat karena diracun
oleh wanita Yahudi. Perbedaan tajam dan spekulatif ini memunculkan pertanyaan, Sumber
otoritatif mana yang mereka gunakan sehingga menghasilkan konklusi yang saling
bertolak belakang dan tidak rasional?
Contoh lainnya
adalah Andre Miquel yang mendistorsi teks untuk menyimpulkan bahwa akal Arab
adalah akal lisan yang primitif-nomaden, berbeda dengan akal kitab (Barat/Ahli
Kitab) yang praktis-realistis. Ia mendasarkan argumennya pada teks kuno
pembagian keahlian bangsa-bangsa, bahwa Cina ahli dalam kerajinan, Bizantium
dalam mekanik, dan Arab hanya dalam kefasihan lisan. Selektivitas dan
interpretasi teks secara serampangan (at-tafsir al-muta'assif) ini
digunakan untuk mendelegitimasi validitas hadis dengan klaim bahwa hadis
hanyalah tradisi lisan yang baru dikodifikasi pada abad ke-2 Hijriah.
4. Generalisasi yang Serampangan (At-Ta'mim al-Ghasyim)
Dalam
epistemologi riset, melakukan generalisasi universal tanpa proses induksi yang
sempurna (Istiqra' Tam) adalah sebuah cacat ilmiah yang fatal.
Sebagaimana kaidah metodologis yang diadopsi oleh Latsone,
"إنَّ اليقين يأخذ في التناقص كلما
أخذ التَّعميم في التَّزايد..."
“Sesungguhnya keyakinan akan terus berkurang seiring dengan
meningkatnya generalisasi...”
Ketika Encyclopaedia
of Islam edisi pertama diterbitkan, serangan orientalis terhadap Sunnah
mencapai puncaknya. Carra de Vaux seorang orientalis Prancis dengan gegabah
melakukan generalisasi bahwa mayoritas hadis yang termaktub dalam kitab-kitab
tafsir (termasuk Tafsir ath-Thabari) adalah hadis palsu atau maudhu'
yang dibuat demi kepentingan teologis, hukum, atau sekadar hiburan.
Generalisasi
buta ini mengabaikan fakta sejarah bahwa para ulama Tafsir bil Ma'tsur
adalah para ahli hadis yang menerapkan kaidah Jarh wa Ta'dil secara
ketat terhadap sanad riwayat mereka. Langkah metodologis kaum Muslimin sangat
jujur dan ilmiah, berbeda dengan kaum orientalis yang menuntut kajian ulang
terhadap Tafsir ath-Thabari semata-mata untuk mengasumsikan dan mendikte
pembentukan ortodoksi Sunni sesuai standar Barat.
Dampak Konstruksi Pemikiran
Para orientalis
secara sosiologis dan politik telah berhasil menjalankan misinya, yaitu
melayani kepentingan kolonialisme, menyebarkan ideologi Barat, dan menanamkan
keraguan di hati umat Islam. Melalui pendekatan materialistik yang mengabaikan
dimensi metafisika/ghaib, mereka memposisikan Islam dan Sunnah di kursi
pesakitan.
Yang sangat disayangkan sekali adalah, sebagian intelektual Muslim justru terjebak dan mengekor pada metodologi Barat yang cacat ini akibat adanya distorsi dalam realitas keberagamaan umat seperti munculnya khurafat dan sinkretisme dalam sebagian praktik tasawuf yang menyimpang, yang kemudian dijadikan pintu masuk kritisisme orientalis. Oleh karena itu, sebagai akademisi Muslim, tugas utama kita adalah melakukan dekonstruksi terhadap metodologi orientalisme yang problematik ini, sekaligus merevitalisasi metodologi Islam (Manhaj Ilmi) yang berbasis pada kejujuran ilmiah, validitas sanad, dan kejernihan epistemologi wahyu.
Catatan ini diambil dari sebuah tulisan berjudul “Uyūbul-Manhajil-‘Ilmiyyi
‘indal-Mustasyriqīn” oleh Dr. Maḥmūd bin Aḥmad ad-Dausarī.
.jpg)
Comments
Post a Comment