Resepsi dan Demarkasi: Respons Intelektual Muslim Indonesia terhadap Pemikiran Keislaman William Montgomery Watt
Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani
Peta Pemikiran Orientalisme di Indonesia
Diskursus
mengenai orientalisme dalam kancah pemikiran Islam kontemporer di Indonesia
selalu menempati posisi yang dinamis sekaligus dialektis. Kehadiran karya-karya
sarjana Barat dalam mengkaji Islam tidak lagi dipandang sebagai entitas tunggal
yang monolitik, melainkan dipetakan secara kritis ke dalam dua kategori besar,
yaitu apresiatif (appreciative) dan kritisisme (criticism).
Apresiasi akademis umumnya diberikan oleh para sarjana Muslim terhadap karya
orientalis yang menunjukkan kecenderungan objektif, jujur, dan menggunakan
pendekatan ilmiah yang terbuka dalam membedah studi keislaman. Sebaliknya,
artikulasi kritik dilesakkan secara tajam apabila produk pemikiran Barat
tersebut mulai mengonfrontasi, mereduksi, atau menyinggung wilayah akidah,
teologi, serta ideologi yang disakralkan oleh umat Islam.
Dalam lanskap
sosiologis Indonesia yang memiliki latar belakang keagamaan yang heterogen,
kajian terhadap pemikiran orientalis ini sejatinya merupakan bentuk respons dan
reaksi intelektual pasca-penyebaran gagasan tersebut di tengah masyarakat. Di
antara sekian banyak orientalis Barat, nama William Montgomery Watt (1909–2006)
mencuat sebagai salah satu figur yang karyanya paling luas bersirkulasi,
dikaji, dikutip, diterjemahkan, dan diterbitkan di Indonesia.
Sebagai seorang
profesor di bidang bahasa Arab dan studi Islam di University of Edinburgh
(1964–1979) sekaligus pendeta di Scottish Episcopal Church, Watt diakui
oleh berbagai media massa Islam sebagai "the last orientalist"
(orientalis terakhir) karena kedalaman, produktivitas, dan reputasi akademisnya
yang sulit ditandingi oleh generasi sesudahnya. Tulisan ini bertujuan untuk
memetakan secara deskriptif-eksplanatoris bagaimana resepsi, apresiasi, dan
reaksi kritis para intelektual Muslim Indonesia, khususnya Hamim Ilyas,
Muhammad Muslih, Lukman S. Thahir, dan Moh. Natsir Mahmud terhadap bangunan
epistemologi keislaman William Montgomery Watt.
Pergeseran Paradigma dari Pendekatan Historis-Reduksionistik dan
Fenomenologis
Natsir Mahmud
memberikan catatan epistemologis mengenai metodologi yang diusung oleh Watt.
Berbeda dengan para pendahulunya yang terjebak dalam pendekatan historis murni
yang tertutup (closed historical approach an sich), Watt melakukan
pergeseran paradigma (shifting paradigm) menuju pendekatan fenomenologis
yang terbuka (open phenomenological approach), atau lebih tepatnya
mengombinasikan keduanya menjadi pendekatan historis-fenomenologis.
Dalam tradisi
orientalisme, pendekatan historis sering kali digunakan secara peyoratif untuk
mencari silsilah pengaruh (background of influence) Islam dari tradisi
Yudaisme, Kekristenan, maupun paganisme Arab. Para orientalis lama seperti
Alfred Guillaume, Charles Cutler Torrey, John Wansbrough, hingga Richard Bell,
secara gencar mencoba membuktikan bahwa peradaban Islam dan Al-Qur'an hanyalah produk
plagiarisme atau sekadar "cangkokan" dari peradaban Yahudi dan
Kristen, yang pada gilirannya menegasikan independensi dan otentisitas Islam
sebagai agama samawi yang mandiri.
Sebaliknya,
pendekatan fenomenologis yang diterapkan Watt mencoba meletakkan Islam
berdasarkan bagaimana agama ini dipahami, dihayati, dan diapresiasi oleh
pemeluknya sendiri (insider's perspective), bukan berdasarkan
penghakiman dari luar. Melalui prinsip epoche (penundaan penilaian),
Watt memosisikan dirinya senetral mungkin dalam beberapa karyanya, seperti
dengan lebih memilih menggunakan klausul "Al-Qur'an mengatakan"
ketimbang "Muhammad mengatakan". Kendati demikian, para
sarjana Indonesia mencatat adanya ambivalensi dan inkonsistensi metodologis
dalam diri Watt, sebab pada tema-tema tertentu, ia tetap tidak mampu melepaskan
diri dari bias teologis Kristen dan pendekatan historis Barat yang
reduksionistik terhadap wahyu.
Kritik Hamim Ilyas terhadap Isu Teologis Al-Qur'an
Salah satu
titik krusial yang memicu reaksi keras dari intelektual Muslim Indonesia adalah
tuduhan Watt bahwa Al-Qur'an atau Nabi Muhammad saw telah melakukan kekeliruan
sejarah dan teologis saat mengkritik ajaran Yahudi dan Kristen. Watt
mempersoalkan klaim Al-Qur'an dalam Surah At-Tawbah ayat 30 yang menyatakan
bahwa orang Yahudi menganggap Uzair (Ezra) sebagai anak Tuhan, serta Surah
Al-Ma'idah ayat 116 yang mengindikasikan bahwa umat Kristen menjadikan Maryam
(Maria) sebagai salah satu unsur dari teologi Trinitas. Bagi Watt, fakta-fakta
ini secara ortodoks tidak ditemukan dalam teologi resmi Yahudi dan Kristen arus
utama, sehingga ia menyimpulkan adanya kesalahan informasi yang diterima oleh
Nabi Muhammad saw.
Hamim Ilyas
mematahkan tesis Watt tersebut dengan mengajukan argumen sosiologis-historis
yang kuat. Menurut Ilyas, Al-Qur'an tidak sedang menguraikan doktrin teologis
mayoritas Yahudi ortodoks atau Kristen arus utama (mainstream),
melainkan sedang merekam fakta teologis spesifik dari sekte-sekte keagamaan
yang ditemui oleh Nabi Muhammad saw di Jazirah Arab pada abad ke-7. Berdasarkan
penelusuran historis, memang terdapat sekte Kristen lokal di Arab kala itu,
seperti sekte Collyridians atau Antidicomarianites, yang
mempraktikkan kultus pemujaan terhadap Bunda Maria dan memosisikannya sebagai
bagian dari elemen ketuhanan wanita. Begitu pula dengan keberadaan kelompok
Yahudi lokal yang memiliki pemahaman menyimpang dengan mengultuskan Nabi Uzair
secara berlebihan.
Ilyas
menegaskan bahwa Watt berpura-pura tidak tahu atau lupa bahwa komunitas agama
itu tidak monolitik, melainkan heterogen. Al-Qur'an merekam fenomena tersebut
secara faktual demi memberikan peringatan teologis. Tuduhan Watt bahwa
ayat-ayat tersebut merupakan sisipan teks (insertion) yang baru
dimasukkan pada periode Madinah pasca-adanya resistensi dari Ahli Kitab,
dinilai tidak logis. Dalam kaidah Ulumul Qur'an, struktur teks Al-Qur'an
yang terdiri dari lebih dari 6.000 ayat memiliki jalinan sistemik yang koheren.
Jika ada satu kata atau ayat yang disisipkan secara ilegal, maka akan merusak
seluruh struktur keselarasan ayat lainnya. Kesucian dan otentisitas teks
Al-Qur'an senantiasa terjaga mutawatir, baik melalui kodifikasi tulisan maupun
transmisi hafalan (the oral tradition) jutaan manusia lintas generasi.
Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt.:
إِنَّا نَحْنُ
نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
"Sesungguhnya
Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami pula yang
memeliharanya." (QS. Al-Hijr: 9).
Sanggahan Lukman S. Thahir atas Watak Naturalistik Wahyu
Lukman S.
Thahir melayangkan kritik tajam terhadap deskripsi Watt mengenai proses
turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad saw. Dalam bukunya Muhammad: Prophet and
Statesman, Watt mengajukan hipotesis bahwa wahyu yang diterima oleh Nabi
diperoleh dalam kondisi tidur atau melalui media mimpi (revelation in a
dream state). Watt juga mengeklaim bahwa sekalipun Nabi Muhammad saw
meyakini wahyu tersebut datang dari Tuhan, hal itu tidak menghalangi dirinya
untuk menyusun kembali material wahyu, melakukan koreksi, serta menambah atau
mengurangi ayat sesuai dengan selera, kecenderungan, dan kepentingan
pribadinya. Watt berlindung di balik konsep nasikh-mansukh (pembatalan
ayat) untuk melegitimasi tuduhannya bahwa teks Al-Qur'an bersifat dinamis
sesuai kehendak subjektif Nabi.
Thahir
membongkar kekosongan dalil dari tesis Watt ini melalui dua argumentasi
mendasar. Pertama, secara historis, wahyu pertama kali turun di Gua Hira
secara mengejutkan, menghentak, dan datang dari entitas objektif di luar
kehendak personal Nabi Muhammad saw. Realitas empiris ini mencatat bahwa
setelah menerima wahyu tersebut, Nabi mengalami ketakutan dan kepanikan yang
luar biasa hingga meminta istrinya, Khadijah ra., untuk menyelimutinya (zammiluni,
zammiluni). Jika peristiwa tersebut hanyalah sebuah mimpi biasa sebagaimana
klaim Watt, maka tidak akan ada manifestasi ketakutan psikologis yang begitu
dahsyat. Kedua, Thahir bersandar pada hadis riwayat Sayyidah Aisyah ra.
yang menjelaskan bahwa meskipun fase awal mubadi'at al-wahyi dimulai
dengan ar-ru'ya as-shalihah (mimpi yang benar yang menyerupai fajar
subuh), namun kedatangan wahyu Al-Qur'an yang sesungguhnya di Gua Hira terjadi
dalam kondisi terjaga secara sadar melalui perantaraan Malaikat Jibril yang
mendekap Nabi dengan nyata.
Tuduhan Watt
bahwa Nabi mengubah ayat sesuai selera pribadinya didekonstruksi oleh Thahir
menggunakan hujah Al-Qur'an itu sendiri. Ketika kaum musyrik Mekkah mendesak
Nabi untuk mengganti doktrin Al-Qur'an agar sesuai dengan kemauan mereka, Allah
Swt. memerintahkan Nabi untuk menjawab:
قُلْ مَا
يَكُونُ لِي أَنْ أُبَدِّلَهُ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِي ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا
يُوحَىٰ إِلَيَّ ۖ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
"Katakanlah
(Muhammad): 'Tidaklah pantas bagiku menggantinya dari diriku sendiri. Aku tidak
mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika
mendurhakai Tuhanku, akan ditimpa azab pada hari yang besar (kiamat)'." (QS. Yunus:
15).
Dalam kaidah
ushul fikih, eksistensi nasikh-mansukh sepenuhnya merupakan hak
prerogatif legislasi ilahi (hak al-tasyri' al-ilahi) demi kemaslahatan
hamba seiring perubahan konteks hukum, dan sama sekali bukan refleksi dari
kelupaan, rekonstruksi humanis, atau oportunitas pribadi Nabi Muhammad saw.
Analisis
Muhammad Muslih atas Dialektika Pencarian Kebenaran dan Keterasingan Akademis
Muhammad Muslih
memberikan porsi apresiasi sekaligus pembacaan psikologis-akademis yang
mendalam terhadap sosok Watt. Menurut Muslih, posisi Watt sebagai pengajar
studi Islam di University of Edinburgh yang mayoritas mahasiswanya adalah
Muslim telah membentuk watak akademis Watt menjadi sangat akomodatif, listener
yang baik, dan apresiatif terhadap tradisi Islam. Watt sendiri mengakui secara
jujur bahwa dalam proses intelektualnya, ia merasa seperti seorang pencari
kebenaran yang sedang berdialog (dialectical seeker of truth). Pada
titik inilah, demi menghargai pengalaman religius tradisi agama lain, Watt
berani keluar dan melonggarkan batas-batas ortodoksi Kristen personalnya.
Namun, sikap
dialektis ini mendatangkan konsekuensi berat bagi Watt. Muslih mencatat bahwa
Watt mendapatkan serangan bertubi-tubi dari rekan-rekan teolog Kristen Barat,
terutama ketika ia mengakui status kenabian (prophethood) Muhammad saw.
Berdasarkan doktrin resmi gereja, kebenaran dan finalitas keselamatan hanya ada
pada Yesus Kristus, sehingga pengakuan Watt terhadap keluhuran bersikap Nabi
Muhammad saw dianggap telah keluar dari garis batas teologi resmi Kristen.
Akibat dari
lompatan metodologis (passing over) ini, Watt mengalami semacam isolasi
akademis (intellectual isolation). Di satu sisi, ia dianggap setengah
keluar dari komunitas agamanya sendiri (Kristen), namun di sisi lain, ia juga
tidak sepenuhnya masuk atau melebur ke dalam komunitas Muslim karena tetap
mempertahankan identitas Kekristenannya. Karakter akademik inilah yang menurut
Muslih membawa Watt pada situasi ketidakpastian (state of uncertainty),
ia terombang-ambing antara tuntutan keterbukaan ilmiah-objektif sebagai
akademisi dan beban dogmatis sebagai seorang pendeta.
Analisis Haris
dan Natsir Mahmud atas Inkonsistensi Historis dan Teori Organisme Agama
Haris menangkap
adanya ambivalensi dan inkonsistensi yang nyata dalam kerangka berpikir Watt.
Di satu sisi, Watt menolak tuduhan miring orientalis klasik yang mengeklaim
bahwa Nabi Muhammad saw mengidap penyakit epilepsi atau mengalami gangguan
jiwa. Watt (sebagaimana diikuti pula oleh Theodor Nöldeke) mengakui bahwa
Muhammad adalah seorang nabi yang jujur, tulus, memiliki karakter moral yang
luhur, serta jenius dalam memimpin negara.
Namun di sisi
lain, Watt mereduksi proses verbalisasi wahyu Al-Qur'an sebagai bentuk respons
internal-psikologis Nabi terhadap stimulasi sosial dari luar, serta menganggap
Nabi mengembangkan konsep alkitabiah (Bible) pasca-interaksi verbalnya
dengan pemeluk Yahudi dan Kristen, termasuk Waraqah bin Naufal. Haris
menegaskan jika Islam dituduh sebagai agama cangkokan dari Kristen, maka secara
epistemologis hal itu runtuh demi hukum, mengingat terdapat jurang perbedaan
teologis yang sangat mutlak dan tidak mungkin bertemu, yaitu Islam yang tegak
di atas tauhid murni (monotheism), sementara Kristen bertumpu pada
doktrin Trinitas (polytheism/trinitarianism dalam kacamata Islam).
Natsir Mahmud
menguliti lebih dalam pendekatan historis Watt lewat teorinya yang terkenal
mengenai Endosoma dan Ectosoma. Watt mengonstruksi teori
sosiologis bahwa agama berkembang layaknya organisme biologis yang memiliki
nukleus (inti sel) sebagai pusat energi. Dalam skema kronologi agama milik
Watt, agama Yahudi memiliki endosoma (inti) dan ectosoma
(lingkungan luar). Perkembangan ectosoma Yahudi kelak melahirkan endosoma
Kristen. Selanjutnya, perkembangan ectosoma Kristen bertransformasi
menjadi endosoma Islam. Dengan hipotesis biologis ini, Watt secara halus
ingin menggiring opini bahwa inti kekuatan (nucleus) ajaran Islam
sebetulnya bersumber dan diderivasi dari trajektori historis Kekristenan.
Mahmud menilai
bahwa goyahnya sikap akademis Watt yang terkadang sangat objektif memuji Nabi
namun di saat lain meragukan otentisitas wahyu, dapat dilihat pada akar
masalahnya yang terletak pada posisi personal Watt sebagai seorang teolog dan
pendeta Kristen. Di bawah tuntutan doktrin gereja mengenai finalitas kebenaran
pada Yesus Kristus, Watt berada dalam dilema epistemologis, yaitu antara
kewajiban menjaga ortodoksi imannya sendiri atau tuntutan keterbukaan ilmiah
sebagai ilmuwan sekuler. Akibatnya, kejujuran Nabi Muhammad saw di mata Watt
tidak serta-merta menjamin kebenaran mutlak dari apa yang disampaikannya.
Kesimpulan
Dari telaah
kritis para intelektual Muslim Indonesia terhadap William Montgomery Watt,
dapat ditarik sebuah konklusi teoretis bahwa betapapun objektif dan
apresiatifnya seorang orientalis menggunakan pendekatan fenomenologis, mereka
tetap akan membentur batas-batas teologis (theological boundaries)
ketika menyentuh dimensi transendental Islam. Apresiasi Muhammad Muslih
terhadap kelapangan dada Watt yang berani keluar dari ortodoksi gerejanya demi
berdialog mencari kebenaran, serta pengakuan jujur Watt terhadap otentisitas
Al-Qur'an sebagai sumber biografi terbaik Nabi, harus diterima sebagai
kontribusi positif dalam ruang akademik.
Namun, bagi
sarjana Muslim, kaidah ushuluddin yang kokoh menggariskan bahwa Al-Qur'an
adalah Kalamullah al-Qadim yang steril dari intervensi historis-humanis.
Sesuai dengan kaidah keilmuan Islam yang berbunyi,
إِنَّ هَذَا
الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya
ilmu (agama) ini adalah bagian dari din (agama) kalian, maka perhatikanlah dari
siapa kalian mengambil agama kalian." (HR. Muslim).
Oleh karena
itu, respons para intelektual Indonesia mencerminkan sebuah sikap demarkasi
yang tegas, yaitu dengan menyerap instrumen metodologi Barat yang
objektif-metodologis, namun secara mutlak menolak setiap reduksionisme historis
yang mencoba meruntuhkan sakralitas wahyu dan pilar-pilar akidah Islamiah.
Tulisan ini disarikan dari artikel berjudul "Indonesian Muslim Intellectuals Responses To
William M. Watts Thought in Islamic Studies" oleh Salamah Noorhidayati, dkk.
Sumber Foto: goodreads.com

Comments
Post a Comment