Skip to main content

Anatomi Jiwa dan Kosmologi Raga dalam Manifesto Kesehatan Ibnu Sina

 

Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani

Urgensi terhadap pemeliharaan kesehatan mental semakin meningkat seiring dengan tingginya tekanan sosial, proses urbanisasi, dan menurunnya kohesi di masyarakat. Terdapat peningkatan signifikan pada kasus gangguan mental dan tingkat bunuh diri yang mengkhawatirkan. Fenomena ini menuntut pendekatan yang lebih holistik dan komprehensif dalam menangani krisis psikologis. Ibnu Sina menawarkan pendekatan biopsikososialnya yang memiliki kesatuan yang terintegrasi dengan kondisi fisik, kognitif, spiritual, dan lingkungan sosial manusia.

Perjalanan intelektual Ibnu Sina menjadikannya sebagai pionir dalam ilmu kedokteran dan psikologi modern. Ia berhasil mengawinkan tradisi keilmuan Yunani dengan nilai-nilai epistemologi Islam. Bukunya yang berjudul al-Qānūn fī at-Țhibb dan Daf’ul Madhar Al-Kulliyah ‘Anil Abdan al-Insaniyah menjadi rujukan yang mewariskan konsep pemeliharaan kesehatan secara paripurna. Ibnu Sina memosisikan jiwa manusia sebagai entitas imateriel yang saling memengaruhi dengan struktur biologis jasmani, sehingga ia meletakkan dasar pengobatan yang mempertimbangkan kondisi kejiwaan pasien.

Inti dari teori kesehatan Ibnu Sina berpusat pada konsep keseimbangan atau Halat al-I’tidal. Ia meyakini bahwa Kesehatan yang sejati tercapai apabila terdapat ekuilibrium yang harmonis antara tubuh, emosi, pikiran, dan jiwa. Keseimbangan ini menuntut ta'dīl al-umur atau pengaturan hal-hal dasar yang mencakup ta'dīl al-hawā' (keseimbangan udara), ta’dīl al-ṭho‘ām (keseimbangan nutrisi), ta’dīl al-syurb (minuman), ta’dīl yaqdzoh wa al-naum (waktu tidur dan bangun), serta keseimbangan gerak tubuh dan jiwa atau ta’dīl al-harokah al-badaniyah wa al-nafsāniyah. Hal ini sejalan dengan firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Infitar ayat 7, “Yang telah menciptakanmu, lalu menyempurnakan kejadianmu, dan menjadikan susunan tubuhmu seimbang. Ibnu Sina memandang bahwa lahirnya penyakit adalah bentuk deviasi dari keseimbangan temperamen yang memengaruhi cairan tubuh.

Stabilitas mental juga tidak dapat dipisahkan dari aktivitas fisik dan anatomi seluler manusia. Ibnu Sina memahami betul bahwa komposisi cairan dalam jaringan tubuh, sirkulasi darah yang mendarahi organ, dan asupan ke dalam sitoplasma sel berdampak langsung pada manifestasi emosional. Contoh, saat emosi memuncak, jantung akan memompa darah lebih cepat sehingga memengaruhi suhu tubuh dan rona kulit. Oleh karena itu, rutinitas fisik, paparan terhadap ruang hijau, serta diet yang seimbang merupakan determinan biologis yang krusial. Kestabilan lingkungan mokrobiologis dalam tubuh ini akan membentuk fondasi yang kukuh bagi ketahanan mental seseorang dalam menghadapi stres.

Ibnu Sina dalam Kitāb al-Shifā merumuskan klasifikasi jiwa menjadi tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah jiwa nabati (an-Nafs al-Nabātiyah), yang berorientasi pada daya nutrisi nutrisi (al-quwwah al-ghādyiyah), pertumbuhan (al-quwwah al-munammiyah), dan reproduksi (al-quwwah al-muwallidah). Tingkatan kedua adalah jiwa hewani (an-Nafs al-Hayāwaniyah) yang memberikan daya gerak intuitif dan persepsi. Daya persepsi ini terbagi menjadi pancaindra eksternal dan indra internal, seperti akal sehat komunal (al-hiss al-musytarak) serta daya representasi (al-quwwa al-mushawwirah). Fungsi-fungsi psikologis ini bertugas menghimpun stimulus dari luar untuk diproses ke dalam memori, yang pada gilirannya akan sangat menentukan menentukan reaksi mental individu terhadap realitas di sekitarnya.

Puncak dari struktur psikologis manusia terletak pada eksistensi jiwa rasional (an-Nafs al-Nātiqoh), yang secara hakiki membedakan manusia dari makhluk lainnya. Jiwa rasional ini digerakkan oleh akal teoritis (‘aql nazhariyyah) untuk merenungkan kebenaran universal, serta akal praktis (‘aql ‘amilah) yang mengarahkan perbuatan dan moralitas (al-afā‘il al-juz’ȋyyah al-khāṣah bi ar-rawiyyah). Kemampuan menggunakan akal praktis untuk berpikir logis dan mengambil keputusan merupakan benteng utama dalam mengendalikan ilusi maupun emosi negatif. Penadayagunaan jiwa rasional ini memiliki ekuivalensi dengan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT), di mana rasionalitas bertindak sebagai instrumen penyembuhan kecemasan serta pembentukan ketenangan batin.

Ibnu Sina tidak melepaskan pandangannya dari dimensi sosiologis. Manusia pada kodratnya adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi untuk memenuhi hajat hidup dasar dan menjaga kewarasannya. Konsep ini selaras dengan kaidah yang dikembangkan oleh Ibnu Khaldun, yakni al-Ijtimā' al-Insānī (keharusan berorganisasi sosial) dan aksioma bahwa manusia adalah makhluk sosial secara tabiat (al-Insānu madaniyyun bi al-thab'i). Sebagai khalifah di bumi, manusia memikul tanggung jawab moral untuk menjaga keseimbangan alam. Krisis ekologis dan rusaknya hubungan antarmanusia dalam masyarakat modern akan secara langsung menciptakan alienasi dan memperburuk kondisi kesehatan mental secara kolektif.

Walhasil, model integratif yang ditawarkan oleh Ibnu Sina menjadi bukti bahwa pelestarian kesehatan mental menuntut adanya sinergi yang tak terpisahkan antara keselarasan jasmaniah, kejernihan kognitif lewat akal rasional, serta keharmonisan hubungan sosial dan spiritual. Pandangannya mengingatkan para praktisi dan akademisi hari ini bahwa proses pemulihan jiwa tidak dapat direduksi pada pengobatan klinis semata, ia wajib mencakup pemeliharaan harmoni dalam setiap elemen pembentuk eksistensi manusia.


Tulisan ini disarikan dari sebuah artikel berjudul, "Ibn Sina’s Biopsychosocial Balance: Insights for Mental Health Preservation and Islamic Psychology" oleh Jarman Arroisi, Syamsuddin Arif, and Muhammad Alif Rahmadi.

Sumber Foto: Fact.net

Comments

Popular posts from this blog

Kehendak Allah vs Kebebasan Manusia: Dilema Kausalitas dalam Al-Qur’an

  Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani Pendahuluan Prinsip kausalitas atau hukum sebab-akibat adalah konsep fundamental yang tidak hanya dikenal dalam ilmu pengetahuan dan filsafat, tetapi juga hadir dalam ajaran agama, termasuk Islam. Dalam Al-Qur'an, berbagai ayat menyiratkan adanya keteraturan dan hubungan sebab-akibat dalam ciptaan Allah. Misalnya, pergantian siang dan malam (QS. Al-Furqan: 62) dan siklus hujan yang menyuburkan bumi (QS. Ar-Rum: 48) menunjukkan keteraturan yang mencerminkan kebijaksanaan Sang Pencipta. Kehadiran hukum sebab-akibat ini memberi pemahaman bahwa alam semesta bekerja dalam keteraturan yang ketat, yang sekaligus membuktikan kebesaran dan kesempurnaan Allah. Dalam kajian filsafat Islam, kausalitas tidak hanya diakui sebagai aspek alami dunia fisik, tetapi juga dilihat sebagai bagian dari kehendak Allah yang mengatur semua aspek kehidupan. Konsep kausalitas dalam Al-Qur'an membawa diskusi lebih lanjut mengenai hubungan antara kehendak Allah yang mu...

Sejarah Al-Irsyad Al-Islamiyah dan Perannya dalam Pengembangan Pendidikan Islam

  Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani Sejarah Perkembangan Al-Irsyad Al-Islamiyah Organisasi Al-Irsyad al-Islamiyah berdiri pada tahun berdiri pada 6 September 1914 (15 Syawwal 1332 H), yang mana tanggal ini mengacu pada pendirian Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang pertama, di Jakarta.   Pengakuan hukumnya sendiri baru dikeluarkan pemerintah Kolonial Belanda pada 11 Agustus 1915. Ormas Islam ini anggotanya merupakan perpaduan antara keturunan arab dan orang Indonesia asli diantaranya para pedagang dan ulama keturunan Arab, seperti Syekh Ahmad Sorkati . Pada saat kehadiran tokoh Syeikh Ahmad Surkati Al-Anshori ke Indonesia, bangsa ini masih dalam kondisi di jajah oleh Belanda. Bahkan salah satu misinya untuk mendidik masyarakat Indonesia yang model keagamaan islamnya dinilai oleh sebagian orang bercampur baur dengan ajaran Hindu-Budha. Di tambah sebagian kaum muslim yang mengikuti tarekat yang juga dinilai menjadi penyebab kemunduran Islam di belahan dunia. Tokoh sent...

Mengurai Cacat Epistemologis dalam Metodologi Riset Orientalis

  Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani Kajian orientalisme terhadap khazanah Islam, terkhusus metodologi ilmiah yang mereka agungkan, sering kali diklaim sebagai bentuk kajian yang objektif, kritis, dan bebas nilai. Alangkah baiknya apabila kita bedah dengan kacamata epistemologi yang jernih, klaim tersebut ternyata justru kontradiktif dengan realitas produk pemikiran mereka. Metodologi mereka kerap kali melanggar asas-asas akademis yang mereka tetapkan sendiri untuk orang lain, seolah posisi mereka berada di atas metodologi itu sendiri. Sebagaimana pembuka khutbah yang diajarkan oleh Rasulullah saw , " Innal-ḥamda lillāhi, naḥmaduhū wa nasta‘īnuhū wa nastagfiruhū, wa na‘ūżu billāhi min syurūri anfusinā ..." (Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami...). Kesadaran akan kelemahan manusiawi inilah yang absen dari tradisi orientalisme, sehingga melahirkan kesombongan metodo...