Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani
Eskatologi berasal dari bahasa Yunani eschatos (akhir)
dan logos (ilmu) yang menjelaskan tentang diskursus fundamental yang mengkaji
peristiwa akhir zaman, fase kehidupan setelah kematian, hari kebangkitan, hingga
takdir keabadian manusia di surga atau neraka. Diskusi mengenai hari akhir kerap
kali hanya berhenti pada tataran dogma teologis. Berbeda dengan Imam Al-Ghazali,
yang merupakan seorang pemikir yang secara konsisten mengintegrasikan ilmu
kalam dan filsafat. Beliau menjadikan eskatologi sebagai basis rasional dan
etis yang sangat krusial bagi persiapan jiwa manusia di alam dunia.
Al-Ghazali memandang bahwa kehidupan akhirat memiliki
eksistensi yang riil dan implikasi langsung terhadap realitas kehidupan manusia
saat ini. Yang mana beliau berpandangan bahwa kebangkitan kelak akan mencakup dua
dimensi, yaitu kebangkitan jasmani dan rohani. Hal ini sekaligus menjadi
bantahan tegas terhadap sebagian pandangan sekuler atau para filsuf yang
meragukan adanya kebangkitan fisik setelah kematian. Beliau berkeyakinan bahwa hari
kiamat dan hisab amal adalah fondasi yang menjaga manusia agar hidup dalam
koridor moralitas yang terarah.
Beliau juga menegaskan bahwa surga dan neraka adalah realitas
yang mutlak. Surga merupakan muara kebahagiaan abadi, sementara neraka adalah tempat
pembalasan. Di sinilah kita bisa melihat secara langsung letak rasionalitas
Al-Ghazali, yang mana beliau menggunakan kausalitas dan keadilan Tuhan sebagai penjelas
bahwa keadilan Tuhan menuntut adanya hari pembalasan dan kekuasaan Tuhan
menjadikan kebangkitan fisik bukanlah sesuatu yang mustahil secara akal. Kendati
demikian, Al-Ghazali juga mengingatkan umat Islam agar tidak beramal
semata-mata karena kalkulasi atau ketakutan akan siksa. Kebaikan harus
dilakukan dengan penuh keikhlasan, sebab kebaikan yang tulus akan membawa kebahagiaan
baik di duni maupun di akhirat. Hal ini sebagaimana ibarah yang mengatakan
“ad-dunya mazra’atul akhirah” (Dunia adalah ladang bagi akhirat).
Adapun implikasi dari pemikiran eskatologis beliau
terhadap keimanan umat Islam adalah tentang pentingnya bentuk tawakal atau
penyerahan diri secara total kepada Allah dari segala kecemasan duniawi serta
pengekangan hawa nafsu, lebih-lebih kita yang hidup di tengah arus modernitas
yang sering kali menumbuhkan materialisme. Kesadaran akan sebuah kematian yang sifatnya
mutlak sebagaimana yang tertuang dalam surat ali Imran ayat 185 mampu memotivasi
kita untuk terus memperbaiki kualitas ibadahnya, menjauhi maksiat, serta memelihara
hubungan baik dengan sesama manusia dan lingkungannya.
Walhasil, dari sini kita dapat menemukan bahwa Al-Ghazali
memiliki kemampuan mengawinkan antara rasionalitas dengan doktrin agama. Beliau
merekontruksi konsep-konsep hari akhir menjadi sebuah sistem etika yang hidup
dan mewariskan tradisi intelektual bagi generasi setelahnya. Dari sinilah kita
juga dituntut untuk menjalani kehidupan di dunia ini dengan visi keabadian,
tanggung jawab yang penuh, serta moralitas yang luhur.
Tulisan ini disarikan dari sebuah artikel berujudul "Eschatology in Islamic Philosophy from the Perspective of Al-Ghazali" oleh Ngatmin Abbas, Mukhlis Faturrohman, Romadhon.

Comments
Post a Comment