Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani
Pengaruh peradaban Barat saat ini telah membentuk ilmu
pengetahuan menjadi sekuler, materialistis, dan dikendalikan oleh prinsip
kapitalisme. Ilmu pengetahuan Barat perlahan-lahan menolak konsep wahyu dan campur
tangan Tuhan dalam kehidupan. Hal ini sangat mengkhawatirkan para cendekiawan
Muslim, karena jika umat Islam menelan pengetahuan ini mentah-mentah, mereka
bisa terpengaruh oleh kebebasan beragama, ateisme, bahkan berujung pada murtad.
Bahaya ini menjadi sangat nyata disaat umat Islam mengonsumsi ilmu pengetahuan
Barat setiap hari yang secara halus menantang keyakinan agama mereka.
Guna mengatasi hal ini, muncullah gagasan Islamisasi
Ilmu Pengetahuan. Tujuannya adalah untuk menyaring dan mengintegrasikan
pengetahuan dari sumber non-Muslim agar sejalan dengan nilai-nilai moral dan
pangan hidup Islam. Al-Qur’an dan hadis selalau menekankan bahwa mencari ilmu
adalah kewajiban dan hak setiap Muslim. Namun, ilmu yang dicari tidak boleh
hanya berhenti pada hal duniawi, ia harus diarahkan untuk memperkuat keimanan serta
belandaskan pada prinsip Tauhid.
Peradaban Islam sepanjang sejarah telah berhasil
memadukan ilmu pengetahuan dan etika. Para ilmuwan Muslim di pusat kota Arab
dan Andalusia telah melakukan lompatan besar dengan menggunakan observasi dan
eksperiman untuk mengembangkan sains, dengan tetap meyakini bahwa keteraturan
alam semesta adalah bukti kebesaran Tuhan. Sayangnya, semangat ilmiah dan moral
ini merosot sejak abad ke-12. Kemunduran ini diperparah oleh masuknya era
penjajahan yang membawa sistem pendidikan sekuler Barat, yang memisahkan urusan
agama dari urusan dunia.
Menyadari kemunduran tersebut, sejak abad ke-19 hingga
ke-20, Muhammad Iqbal, Seyyed Hossein Nasr, Ismail Raji Al-Faruqi, dan Syed
Naquib Al-Attas bangkit menyerukan pentingnya menghidupkan kembali tradisi ilmu
pengetahuan Islam. Gerakan ini kemudian didorong oleh berbagai institusi, salah
satunya melalui peran besar International Islamic University Malaysia (IIUM).
Osman Bakar dan Al-Attas menegaskan bahwa umat Islam harus membebaskan
pikirannya dari cengkeraman filsafat peradaban Barat dan kembali menyatukan ilmu
pengetahuan di bawa prinsip Tauhid yang utuh.
Sains Barat yang selama ini diagung-agungkan
sebenarnya sedang mengalami krisis kepercayaan. Karl Popper, Thomas Kuhn, dan
Rupert Sheldrake menyadari bahwa sains Barat bukanlah sumber kebenaran yang
mutlak. Mereka menemukan bahwa teori-teori sains sering kali didasari oleh bias
dan anggapan manusia yang tidak bisa sepenuhnya dibuktikan secara ilmiah. Terlebih
lagi dalam ilmu fisika, pandangan bahwa alam semesta hanya sebatas materi yang
kaku mulai runtuh. Para ilmuwan kini menyadari bahwa alam semesta ini sangat rumit
dan saling terhubung, sehingga sains yang kaku dan mengabaikan nilai subjektif
serta kemanusaian perlahan mulai ditinggalkan.
Bahaya dari ilmu pengetahuan yang terlepas dari nilai
agama dan etika ini sangatlah nyata, salah satunya terlihat pada krisis
lingkungan global yang kita alami saat ini. Pendekatan pasar bebas dan
teknologi sekuler telah menyebabkan kerusakan alam yang parah, seperti bencana
tumpahan minyak di Teluk Meksiko pada tahun 2010, krisis pemanasan global,
penggundulan hutan, hingga polusi yang memicu berbagai penyakit baru. Hal ini
menjadi bukti bahwa pengetahuan ilmiah yang hanya mengejar kemajuan materi
tanpa peduli pada etika justru membawa manusia ke arah kehancuran dan mengancam
kelestarian bumi.
Banyak ilmuwan kemudian mulai sadar bahwa sains dan
agama tidak seharusnya dipisahkan, ia harus saling melengkapi. Paul Devies dalam
bukunya God and the New Physics menunjukkan bahwa penemuan-penemuan
fisika terbaru kini mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini hanya
dibahas dalam agama, seperti asal-usul alam semesta dan kehidupan. Sains kini
mulai menyentuh batas pemahaman manusia, di mana kehadiran sebuah rancangan
besar dari Tuhan tidak bisa lagi dipisahkan dari diskusi ilmiah.
Karenanya, bagi umat Islam, sains harus selalu
dikembalikan dan dipelajari di bawah payung pandangan hidup Islam. Tidak boleh
ada pemisahan antara ilmu duniawi dan ukhrawi, karena semua ciptaan di alam
semesta ini pada hakikatnya adalah Tanda-tanda dari Tuhan. Abdel ‘Aziz Berghout
mengemukakan bahwa proses islamisasi ini harus dilakukan secara menyeluruh dan
sistematis. Islam memandang sains mencakup akal pikiran, hati, murani, dan
moral, agar kemajuan teknologi yang dicapai tetap menjaga martabat manusia dan
sejalan dengan hukum syariat.
Tulisan ini disarikan dari sebuah artikel berjudul “Integration of
Islamic Values Within Science Based on Islamization of Human Knowledge (IOHK)
Theory or Philosophy” oleh Solehah Yaacob dan Ismail Haron.
Sumber Foto: photos.com

Comments
Post a Comment