Skip to main content

Posts

Kampus atau Korporasi? Menyoal Arah Pendidikan Tinggi

Oleh: Muhammad Diaz Supandi      Pendidikan tinggi pada hakikatnya merupakan arena pematangan intelektual, ruang dialog antaride dan tempat tumbuhnya kepekaan moral serta keberanian berpikir kritis. Universitas didirikan bukan semata sebagai mesin pencetak tenaga kerja, melainkan sebagai institusi peradaban yang memfasilitasi pengembangan akal budi, pengetahuan, dan karakter manusia seutuhnya. Di sinilah tempat individu didorong untuk bertanya, mengkaji, dan menggugat realitas, demi membentuk masa depan yang lebih adil dan manusiawi. Namun, pada era kontemporer yang ditandai oleh hegemoni neoliberalisme, orientasi luhur ini perlahan terkikis. Banyak kampus mulai beralih fungsi menjadi korporasi intelektual yang lebih sibuk menghitung pemasukan dan peringkat, ketimbang membangun atmosfer akademik yang sehat dan bermakna.      Fenomena komersialisasi ini tampak jelas dalam narasi yang kini digembar-gemborkan banyak institusi pendidikan tinggi: "kuliah hari ...

Agama Tak Pernah Mati: Membaca Ulang Tesis Sekularisasi Bersama José Casanova

  Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani Di antara gegap gempita wacana sekularisasi, nama José Casanova menjadi penanda penting. Bagi sebagian besar sosiolog, sekularisasi adalah keniscayaan modernitas. Namun, José hadir bukan untuk sekadar menyanggah, tetapi untuk “memperumit” persoalan. Baginya, sekularisasi tidak otomatis menjadi kelanjutan dari modernisasi. Ini adalah tesis yang muncul pada tahun 1994 melalui karyanya Public Religions in the Modern World , tepat di saat banyak orang mulai merasakan bahwa anggapan agama meredup di era modern ternyata jauh dari kenyataan. Kehadiran revolusi Iran, bangkitnya evangelikalisme di Amerika Serikat, dan gerakan Solidaritas di Polandia hanyalah beberapa contoh betapa agama justru menjadi bagian integral dalam kehidupan publik. José tidak hanya mempersoalkan hubungan agama dengan negara, tetapi juga menelusuri asal-usul dikotomi antara “religius” dan “sekuler” itu sendiri. Dikotomi yang oleh banyak akademisi Barat dianggap wajar, padah...

Dekolonisasi Studi Al-Qur'an: Mengupas Pemikiran Joseph Lumbard

  Oleh: Muhammad Diaz Supandi Joseph Lumbard, seorang akademisi Muslim Amerika terkemuka yang mengkhususkan diri dalam kajian Al-Qur'an, telah memberikan kontribusi dalam wacana dekolonisasi studi keagamaan. Sebagai profesor Studi Al-Qur'an di Universitas Hamad bin Khalifa, Qatar, Lumbard menyuarakan kritik tajam terhadap dominasi paradigma intelektual Barat dalam studi Al-Qur'an. Ia menyoroti bahwa pendekatan ini masih sangat dipengaruhi oleh warisan kolonialisme epistemologis, di mana tradisi intelektual Islam sering kali dikesampingkan atau dianggap kurang relevan. Dalam artikel terbarunya yang berjudul "Decolonizing Quranic Studies," Lumbard mengungkapkan bahwa tradisi keilmuan Barat cenderung meminggirkan kekayaan epistemologi Islam klasik, yang sebenarnya memiliki potensi besar untuk memberikan perspektif alternatif dalam memahami Al-Qur'an. Lumbard menyoroti bahwa meskipun umat Islam menghormati Al-Qur'an secara spiritual, potensi heuristiknya dal...

Deskontruksi Islam: Islamofobia Prespektif Rasisme Epistemik

  Oleh: Rifqi Baihaqi Zaki Fenomena Islamofobia sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru dalam sejarah peradaban Islam. Jejak awal Islamofobia dapat dilihat dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Pada masa awal penyebaran Islam, muncul resistensi yang kuat dari para pemuka Quraisy, yang kala itu merupakan kelompok penguasa di Mekkah. Mereka merasa terancam oleh ajaran Islam yang membawa nilai-nilai ketauhidan, keadilan, dan kesetaraan sosial, karena hal tersebut bertentangan dengan kepentingan politik, ekonomi, dan ideologi mereka. Dengan masyarakat yang saat itu masih diliputi kepercayaan jahiliah dan menyembah berhala, kebangkitan Islam dipandang sebagai ancaman terhadap status quo. Kebencian dan penolakan sepihak dari kaum Quraisy terhadap ajaran Islam dapat dianggap sebagai bentuk embrio Islamofobia yang berakar pada kepentingan kekuasaan serta ketakutan terhadap perubahan tatanan sosial yang dibawa oleh ajaran Islam. Dalam catatan barat, islamfobia merujuk ...

Filosofi Tanah: Dari Kedalaman Alam, Menuju Kedalaman Jiwa

  Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani Tanah, elemen yang seringkali dianggap remeh dalam kehidupan sehari-hari, ternyata menyimpan kedalaman yang tak terhingga. Bukan sekadar lapisan fisik yang menopang kehidupan, tanah merupakan simbol dari segala yang tersembunyi dan yang perlahan tumbuh dari dasar. Ia menjadi metafora bagi jiwa manusia, yang juga kerap kali menyembunyikan kekuatan-kekuatan tak tampak yang hanya bisa dimengerti dengan perenungan dan pengalaman mendalam. Di bawah kaki kita, ia menyimpan segala yang perlu untuk kehidupan. Ia adalah wadah yang menyuburkan, yang memberikan ruang bagi akar-akarnya untuk merambat, yang membentuk fondasi bagi tumbuhnya segala macam bentuk kehidupan. Namun, ia juga mengajarkan kita tentang keterhubungan yang dalam antara dunia luar dan dunia batin kita. Seperti akar yang tumbuh menembus kedalaman bumi, jiwa kita pun terhubung dengan realitas yang lebih dalam, yang tidak selalu tampak oleh mata kasat. Filosofi tanah mengajarkan kita ...

Kehendak Allah vs Kebebasan Manusia: Dilema Kausalitas dalam Al-Qur’an

  Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani Pendahuluan Prinsip kausalitas atau hukum sebab-akibat adalah konsep fundamental yang tidak hanya dikenal dalam ilmu pengetahuan dan filsafat, tetapi juga hadir dalam ajaran agama, termasuk Islam. Dalam Al-Qur'an, berbagai ayat menyiratkan adanya keteraturan dan hubungan sebab-akibat dalam ciptaan Allah. Misalnya, pergantian siang dan malam (QS. Al-Furqan: 62) dan siklus hujan yang menyuburkan bumi (QS. Ar-Rum: 48) menunjukkan keteraturan yang mencerminkan kebijaksanaan Sang Pencipta. Kehadiran hukum sebab-akibat ini memberi pemahaman bahwa alam semesta bekerja dalam keteraturan yang ketat, yang sekaligus membuktikan kebesaran dan kesempurnaan Allah. Dalam kajian filsafat Islam, kausalitas tidak hanya diakui sebagai aspek alami dunia fisik, tetapi juga dilihat sebagai bagian dari kehendak Allah yang mengatur semua aspek kehidupan. Konsep kausalitas dalam Al-Qur'an membawa diskusi lebih lanjut mengenai hubungan antara kehendak Allah yang mu...

Wisdom dari Surah Luqman: Panduan Al-Qur'an untuk Generasi Sandwich dalam Menghadapi Tantangan

  Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani Di era modern ini, istilah " generasi sandwich " sering kali mencuat ke permukaan, menggambarkan mereka yang terjebak di antara tanggung jawab merawat orang tua dan membesarkan anak-anak. Menjadi generasi sandwich adalah sebuah tantangan, tetapi Al-Qur'an, khususnya melalui Surah Luqman, memberikan panduan yang berharga untuk membantu mereka menjalani peran ini dengan lebih baik. Surah Luqman mengajak kita untuk merenungkan pentingnya menghormati orang tua. Dalam surah ini, Luqman al-Hakim mengingatkan anaknya untuk senantiasa menghargai pengorbanan orang tua. Pesan ini menjadi relevan bagi generasi sandwich yang harus tidak hanya merawat orang tua mereka sendiri tetapi juga mengajarkan anak-anak untuk menghargai nenek dan kakek mereka. Ketika generasi sandwich mampu menciptakan lingkungan yang penuh penghormatan dan kasih sayang, mereka turut menanamkan nilai-nilai positif dalam keluarga. Selain itu, Surah Luqman menekankan pent...