Skip to main content

Posts

Aktualisasi Filsafat Ilmu untuk Pengembangan Sains Islam Melalui Studi Epistemologis

   Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani Akar Historis Kemunduran Sains Islam Sains secara umum diklasifikasikan ke dalam dua kelompok besar, yaitu ilmu alam ( natural science ) dan ilmu sosial ( social science ). Gerakan Islamisasi ilmu pengetahuan tampak lebih menonjol pada wilayah ilmu-ilmu sosial, meskipun belakangan ini institusi pendidikan Islam mulai gencar mengintegrasikan Islam dengan ilmu eksakta, seperti melahirkan diskursus matematika Islam dan fisika Islam. Integrasi ini sangatlah krusial karena dalam paradigma Islam, menuntut ilmu adalah wadah pemenuhan rasionalitas, dan mengemban misi ganda berupa pencarian rida Allah SWT sekaligus memberikan kemaslahatan bagi umat manusia ( rahmatan lil 'alamin ). Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. Ali 'Imran: 191: الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ...

Resepsi dan Demarkasi: Respons Intelektual Muslim Indonesia terhadap Pemikiran Keislaman William Montgomery Watt

  Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani Peta Pemikiran Orientalisme di Indonesia Diskursus mengenai orientalisme dalam kancah pemikiran Islam kontemporer di Indonesia selalu menempati posisi yang dinamis sekaligus dialektis. Kehadiran karya-karya sarjana Barat dalam mengkaji Islam tidak lagi dipandang sebagai entitas tunggal yang monolitik, melainkan dipetakan secara kritis ke dalam dua kategori besar, yaitu apresiatif ( appreciative ) dan kritisisme ( criticism ). Apresiasi akademis umumnya diberikan oleh para sarjana Muslim terhadap karya orientalis yang menunjukkan kecenderungan objektif, jujur, dan menggunakan pendekatan ilmiah yang terbuka dalam membedah studi keislaman. Sebaliknya, artikulasi kritik dilesakkan secara tajam apabila produk pemikiran Barat tersebut mulai mengonfrontasi, mereduksi, atau menyinggung wilayah akidah, teologi, serta ideologi yang disakralkan oleh umat Islam. Dalam lanskap sosiologis Indonesia yang memiliki latar belakang keagamaan yang heterogen, kaji...

Ikhtiar Melawan Kejumudan Tekstualis Menuju Paradigma Pendidikan Islam yang Terbuka Lewat Filsafat Falsifikasi Karl Popper

  Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani Karl Raimund Popper lahir pada tanggal 28 Juli 1902 di kota Wina, Austria. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga intelektual yang berkebudayaan tinggi, ayahnya, Dr. Simon S. Carl Popper, adalah seorang sarjana hukum dan pengacara yang mencintai buku serta filsafat, sedangkan ibunya merupakan seorang pencinta musik yang pandai bermain piano. Ketertarikan mendalam terhadap dunia akademis membawa Popper menyelesaikan studi doktoralnya pada tahun 1928 dengan disertasi berjudul Zur Methodenfrage der Denkpsychologie (Masalah Metode dalam Psikologi Pemikiran) hingga ia berhasil meraih gelar doktor di bidang filsafat. Selang satu tahun kemudian, berbekal gelar diploma yang dimilikinya, ia mengajar matematika dan IPA di sekolah menengah alam. Sebagai putra daerah, Popper dikenal sebagai salah satu kritikus paling tajam terhadap pemikiran dominan yang berkembang di Lingkar Wina ( Vienna Circle ). Meskipun ia mengakui dirinya sebagai pengritik luar da...

Menakar Peluang Keilmiahan Ilmu-ilmu Islam Melalui Prinsip Falsifikasi Karl Popper

  Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani Perkembangan ilmu pengetahuan, atau yang secara universal dikenal sebagai science , hakikatnya didorong oleh dinamika kreativitas akal dan kegelisahan intelektual manusia yang bersifat berkelanjutan tanpa batas waktu. Manifestasi nyata dari perkembangan ini adalah lahirnya beragam aliran pemikiran yang menawarkan konsep serta metodologi di atas fondasi paradigmanya masing-masing. Di satu sisi, keberagaman ini mencerminkan kedalaman upaya manusia dalam mengejar kebenaran, namun di sisi lain, benturan paradigma tidak jarang memicu krisis kerangka intelektual, bahkan hingga melibatkan konflik fisik yang mengorbankan banyak jiwa, sebagaimana terekam dalam sejarah ketegangan antara otoritas gereja dan kaum saintis menjelang era pencerahan. Ikhtiar manusia yang tak pernah usai dalam menyingkap tabir realitas ini sejatinya selaras dengan isyarat Tuhan dalam Al-Qur'an Surah Al-Isra ayat 85: وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا "Dan tid...

Mengurai Cacat Epistemologis dalam Metodologi Riset Orientalis

  Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani Kajian orientalisme terhadap khazanah Islam, terkhusus metodologi ilmiah yang mereka agungkan, sering kali diklaim sebagai bentuk kajian yang objektif, kritis, dan bebas nilai. Alangkah baiknya apabila kita bedah dengan kacamata epistemologi yang jernih, klaim tersebut ternyata justru kontradiktif dengan realitas produk pemikiran mereka. Metodologi mereka kerap kali melanggar asas-asas akademis yang mereka tetapkan sendiri untuk orang lain, seolah posisi mereka berada di atas metodologi itu sendiri. Sebagaimana pembuka khutbah yang diajarkan oleh Rasulullah saw , " Innal-ḥamda lillāhi, naḥmaduhū wa nasta‘īnuhū wa nastagfiruhū, wa na‘ūżu billāhi min syurūri anfusinā ..." (Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami...). Kesadaran akan kelemahan manusiawi inilah yang absen dari tradisi orientalisme, sehingga melahirkan kesombongan metodo...

Membaca Qirā’āt dari Barat: Analisis Kritis terhadap Pandangan Orientalis tentang Varian Bacaan Al-Qur’an

  Oleh: Handila Orientalis dan Studi Al-Qur’an Sarjana Barat yang mengkaji persoalan ketimuran, baik dari aspek adat istiadat, sejarah, bahasa, sastra, maupun berbagai aspek lainnya termasuk Islam, mereka dikenal dengan sebutan orientalis. [1] Kajian mereka terhadap dunia Timur dan Islam setidaknya dilatarbelakangi oleh dua motif utama. Pertama, motif keagamaan. Dalam hal ini, sebagian dari mereka merepresentasikan tradisi Kristen yang memandang Islam sebagai agama yang muncul dan berkembang dengan membawa ajaran yang dianggap berseberangan dengan doktrin-doktrin teologi mereka. Kedua, motif politik. Islam dipandang sebagai kekuatan yang berpotensi menjadi ancaman, bukan semata karena kejayaan simbolik dalam kekuasaan politiknya, tetapi karena Islam merupakan sebuah peradaban besar yang berkembang pesat selama berabad-abad dan memiliki tradisi keilmuan yang mapan serta berpengaruh luas. [2] Bidang-bidang kajian yang digeluti para sarjana Barat tersebut meliputi teologi dan f...