Oleh: Muhammad Dini Syauqi Al Madani Wacana pemikiran keislaman di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pengaruh gagasan Nurcholis Madjid atau biasa dikenal dengan Cak Nur, yang oleh para pengikutnya sering dianggap membawa napas pembaruan yang mencerahkan. Salah satu produk intelektualnya adalah gagasan mengenai Teologi Inklusif. Daya tarik teologi ini bahkan membuahkan kekaguman mendalam di kalangan intelektual, sebagaimana diungkapkan oleh Goenawan Mohamad dalam pengantar buku Cak Nur: “Setiap kali saya mendengarkan Nurcholis Madjid, setiap kali saya merasa ada yang tersematkan dalam iman saya: Tuhan yang Esa itu adalah Tuhan yang inklusif. Ke dalam ke-Maha Pemurah-an itu saya ditampik.” Pernyataan ini merepresentasikan bagaimana inklusivisme diterima sebagai oase teologis, meski pada saat yang sama memantik persoalan konseptual yang serius terkait identitas dan esensi agama. Gagasan teologi inklusif ini lahir sebagai antitesis terhadap paham eklusivisme yang diklaim sebagai...